Home News Pemerintah Janji Tak Biarkan Ekonomi RI Tumbuh di Bawah 5 Persen

Pemerintah Janji Tak Biarkan Ekonomi RI Tumbuh di Bawah 5 Persen

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Kementerian Keuangan memastikan tidak akan membiarkan ekonomi Indonesia tumbuh di bawah lima persen pada tahun ini dan pada 2020. Meskipun, perekonomian global pada periode itu dipastikan akan semakin berat akibat melambatnya perdagangan dunia.

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan, melambatnya ekonomi global dan perdagangan dunia, bukan merupakan alasan pemerintah tidak mampu mendorong ekonomi Indonesia, namun sebuah kenyataan. Terbukti, dari perdagangan global yang hanya sebesar 1,1 persen terendah sejak 2008.

Akibatnya, perekonomian negara-negara maju, seperti China dari yang 5-10 tahun lalu mampu tumbuh double digit, kini hanya di kisaran enam persen. Begitu juga dengan Singapura, dari September 2017, mampu tumbuh lima persen kini hanya tinggal 0,1 persen.

“Dan, kalau perekonomian kita kena imbas, tahun lalu kita 5,2 persen, tahun ini lima persen, bukannya kita enggak kena imbas, tetapi minimal kita tahan. Benar-benar kita tahan, jangan sampai di bawah lima persen,” tutur dia di kantornya, Jakarta, Rabu, (18/12).

Menurutnya, faktor utama yang sangat penting agar ekonomi Indonesia tidak terdampak adalah dengan meningkatkan efektivitas gerak sektor properti. Sektor itu, dikatakannya, memiliki efek ganda yang sangat kompleks untuk menggerakkan ekonomi secara keseluruhan.

“Nah, sektor properti ini biasanya memegang peranan penting untuk menahan atau mengangkat kembali pertumbuhan ekonomi, karena sektor properti multiplayer efeknya ke mana-mana,” tuturnya.

Dia mencontohkan, untuk membangun satu rumah, maka dibutuhkan lahan, tanaman sebagai hiasan, batu bata, besi baja, semen, alat-alat konstrukksi lainnya, hingga tenaga kerja yang cukup banyak, khususnya pekerja konstruksi. Karenanya, sejak tahun lalu, pemerintah telah siapkan insentif di sektor properti.

“Jadi, dia penggunaan input-nya, range-nya dari sektor pertanian sampai manufaktur tingkat tinggi, sampai jasa-jasa nya, jadi sangat tinggi multiplayer ekonomi. Karena itu, kita yakin, sejak kita lihat kondisi ekonomi ke depan akan berat maka pemerintah tahun lalu berikan seperangkat insentif untuk sektor properti,” tegasnya.

Adapun insentif tersebut berupa keringanan pengenaan pajak, seperti tidak dipungutnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk tipe rumah sederhana dan super sederhana, pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) bagi tipe menengah dari lima persen jadi satu persen hingga dinaikannya batasan nilai rumah mewah untuk dikenakan Pajak Penjualan Atas Bawang Merah (PPnBM).

“Ketemu dengan pengusaha sektor properti, kapan sektor ini bisa maju, dan kemudian mereka bilang masih kurang insentifnya kurang. Tetapi, dengan apa yang dilakukan dengan seluruh insentif ini betul-betul sektor properti kalau bisa mulai kerja dan tingkatkan pertumbuhannya,” tegas dia. (Viv).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here