Home News Pemerintah Didorong Optimalkan APBN Hadapi Fenomena Korona

Pemerintah Didorong Optimalkan APBN Hadapi Fenomena Korona

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Strategi pemerintah yang mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat dinilai sudah tepat. Itu dinilai bisa menjaga perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah merebaknya virus korona.

“Kami pandang sudah tepat untuk menjaga perekonomian Indonesia tetap stabil,” kata Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (3/3).

Pernyataan Johanna senada dengan yang disampaikan Staf Ahli Bidang Makro Ekonomi dan Keuangan Internasional Suminto. Menurut Suminto, Kementerian Keuangan akan menggunakan seluruh instrumen yang dimiliki untuk memberikan kepercayaan dan menjaga stabilitas perekonomian.

“Kita akan gunakan all possible instrument yang dimiliki pemerintah jadi kata kuncinya dua yaitu stabilisasi dan confidence pelaku ekonomi serta masyarakat,” ujar Suminto.

Sektor pariwisata akan paling berdampak akan merebaknya kasus ini. Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) memprediksi potensi kerugian sektor industri pariwisata mencapai puluhan miliar per bulan karena anjloknya turis dari Tiongkok.

Pasalnya, Indonesia menjadi salah satu negara yang telah memberlakukan larangan perjalanan ke dan dari Tiongkok. Statistik Indonesia menunjukkan dari Januari hingga November 2019 tercatat 1,9 juta wisatawan Tiongkok telah mengunjungi Indonesia.

Terkait hal tersebut di atas, Grant Thornton Indonesia mendorong agar semua pihak tidak panik. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan saat melakukan kunjungan ke luar negeri.

“Masyarakat perlu mawas saat bepergian ke luar negeri sehingga menimalisasi kemungkinan virus masuk ke Indonesia. Penting pula mengenali lebih jauh negara yang ingin dikunjungi sebelumnya,” imbuh Johanna.

Pelemahan ekonomi Indonesia lainnya bisa terjadi karena Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2020, penurunan tajam terjadi pada ekspor migas dan non-migas yang merosot 12,07%.

Hal itu dapat terjadi karena Tiongkok merupakan pengimpor minyak mentah terbesar, termasuk dari Indonesia. Dari sisi impor juga terjadi penurunan 2.71% yang disumbang turunnya transaksi komoditas buah-buahan.

Lebih jauh disebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan sekitar 0,23% jika perekonomian Tiongkok melemah 1% akibat wabah virus korona.

“Dampak pada perekonomian negara kita sudah terasa. Strategi pemerintah saat ini sudah tepat untuk mengoptimalkan biaya APBN dan menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat,” tutup dia. (Mei).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here