Home News OJK: Bank Dan Korporasi Diminta Konsolidasi

OJK: Bank Dan Korporasi Diminta Konsolidasi

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Konsolidasi antara korporasi dan bank diharap menjadi solusi masalah tingginya angka kredit perbankan yang belum diambil (undisbursed loan) serta seretnya pertumbuhan kredit.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai, banyaknya perusahaan yang belum menyerap kredit bank karena adanya kenaikan beban usaha. Karena itu ia berharap ada konsolidasi antara pihak swasta atau BUMN dengan perbankan agar bisa menyelesaikan kendala penyaluran kredit ini.

“Kredit yang belum ditarik atau disalurkan masih tinggi. Untuk itu kita berharap, secara umum korporasi akan bekerja lebih baik saat selesai berkonsolidasi dengan bank,” kata Agus.

Lebih lanjut ia mengaku lebih senang jika melihat potensi kredit dari sisi pasar modal. Pasalnya, sektor tersebut memberikan bunga yang lebih rendah, sehingga pertumbuhan aliran dana mencapai Rp 170 triliun pada semester I-2017.

“Sekitar 53 persen itu adalah obligasi korporasi, jadi pasar modal cukup berkembang meskipun industri perbankan intermediasinya masih agak pelan,” tuturnya.

Sementara dari data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai dengan Juli 2017 total kredit perbankan mengalami kenaikan sebesar 8,2 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan kredit perbankan ini tumbuh positif dibandingkan dengan pertumbuhan kredit bulan sebelumnya yang hanya naik 7,76 persen (yoy) menjadi Rp 4.526 triliun.

Terpisah, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, target semula pertumbuhan kredit itu dipatok 9-13 persen. Kemudian di pertengahan tahun, banyak bank merevisi target dari 12 persen ke 11,79 persen. Itu artinya, bank memang menurunkan target kredit.

Namun Heru meyakini, industri perbankan mampu mencatatkan pertumbuhan kredit di atas target. Hal ini dikarenakan tren penyaluran kredit yang biasanya deras di akhir tahun.

“OJK tetap memproyeksi setidaknya kredit perbankan mampu tumbuh 12,5 persen pada akhir 2017. Harus optimis, kalau pesimis artinya kita tidak kerja. Perbankan juga mendukung target pertumbuhan ekonomi yang dipatok pemerintah 5,2 persen. Mereka (bank) menyatakan optimis,” ucap Heru.

Sementara dari sisi perbankan, Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja mengatakan, permintaan kredit perbankan masih belum terlalu kencang kalau dibandingkan dengan semester pertama lalu.

“Target pertumbuhan kredit OCBC NISP di tahun ini masih sejalan dengan rencana awal, yakni di kisaran 10-15 persen,” katanya.

Bank berkode NISP mencatat undisbursed loan sampai Juni 2017 sebesar Rp 34,8 triliun.

Senada, bank yang baru saja masuk Bank Umum Kategori Usaha (BUKU) IV PT CIMB Niaga Tbk tidak akan agresif semester II tahun ini.

Bahkan hingga Agustus 2017, pertumbuhan kredit bank asal Malaysia ini masih single digit. “Masih di bawah 10 persen. Kita nggak akan jor-joran mem-push kredit meskipun nasabah belum ekspansi sebesar yang diharapkan. Kalau memang kredit banyak yang belum ditarik, ya jangan dipaksa. Bahaya itu,” kata Direktur Utama CIMB Niaga Tigor M Siahaan.

Menurut Tigor, saat ini pihaknya akan memberikan kredit dengan tetap berpatokan pada assesment dan kebutuhan kredit nasabah. Jika tidak, tentunya saja kekhawatiran akan berdampak pada rasio kredit bermasalah akan lebih besar lagi.

“Bisa saja kredit growth tumbuh, tapi dari segi NPL (non performing loan/kredit bermasalah) juga khawatir tumbuh. Prudential lending akan tetap difokuskan, target kredit hingga dobel digit sampai akhir tahun masih terus diupayakan, tapi harus dengan prinsip kehati-hatian,” tukasnya. (Rmo).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here