Home News Neraca Perdagangan Masih Rentan Defisit Disebabkan Lemahnya Ekspor

Neraca Perdagangan Masih Rentan Defisit Disebabkan Lemahnya Ekspor

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyatakan struktur neraca perdagangan masih rentan mengalami defisit karena masih lemahnya peran ekspor manufaktur.

”Apalagi defisit migas masih cenderung melebar karena dorongan kenaikan harga minyak dan peningkatan volume impor migas antisipasi lebaran,” ujar Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal di Jakarta kemarin.

Sementara ekspor komoditas sawit yang menjadi andalan utama Indonesia menghadapi berbagai ancaman proteksi di berbagai negara, khususnya Eropa, Amerika, bahkan negara importir terbesar India. Menurut dia, kondisi ini menjadi peringatan bagipemerintah agar segera menempatkan upaya peningkatan daya saing industri manufaktur secara komprehensif sebagai agenda utama ke depan.

”Bukan sekadar memperkuat neraca perdagangan, tetapi juga untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi,” kata Faisal.

Dengan defisit pada Februari 2018 sebesar USD120 juta, kata dia, maka total defisit dalam tiga bulan sejak Desember 2017 menjadi USD1,1 miliar.

Faisal menyebutkan, defisit perdagangan selama tiga bulan berturut-turut ini adalah pertama kali terjadi sejak tahun 2014. Dia menegaskan, CORE Indonesia memandang kondisi ini patut mendapatkan perhatian serius pemerintah setidaknya karena tiga alasan, yakni pertama, net ekspor yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi selama 2017 dengan pertumbuhan 21% berpotensi memberikan sumbangan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini.

”Artinya, upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tahun ini menjadi semakin sukar,” kata dia.

Kedua, defisit perdagangan akan semakin mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang menjadi salah satu faktor pendorong pelemahan nilai tukar Rupiah, selain faktor eksternal misal, penaikan suku bunga acuan The Fed di AS.

Ketiga, belum ada peningkatan kinerja industri manufaktur secara berarti, terutama indus tri yang berorientasi ekspor. Dia memaparkan, defisit perdagangan dalam tiga bulan terakhir setidaknya didorong oleh dua faktor, yakni pelebaran defisit migas dan penyempitan surplus nonmigas.

Pelebaran defisit migas terjadi akibat peningkatan impor migas yang didorong oleh kenaikan harga minyak dunia. Menurut dia, pelebaran defisit migas sebenarnya sudah terjadi sejak Februari 2016 sejalan dengan harga minyak yang mulai bergerak naik dari USD30 per barel pada Januari 2016 menjadi USD64 per barel pada Februari 2018, bahkan sempat menyentuh di atas USD70 per barel pada Januari lalu.

Akibatnya, kata dia, defisit migas pada Februari 2016 hanya USD10 juta meningkat menjadi USD870 juta pada Februari 2018. Adapun di sisi nonmigas, ekspor manufaktur yang sejak Januari 2016 mengalami tren kenaikan dalam tiga bulan terakhir mengalami kontraksi sebesar 11% dari USD11,5 miliar pada November 2017 menjadi USD10,3 miliar pada Februari 2018.

”Ekspor tambang mengalami peningkatan sejak paruh kedua 2016 dalam dua bulan terakhir, juga ikut terkoreksi 15,3% dari USD2,7 miliar (Desember 2017) menjadi USD2,3 miliar (Februari 2018),” ujarnya.

Bahkan, ekspor pertanian mengalami penurunan lebih tajam sebesar 25,6% dalam tiga bulanterakhir. Sementaraeks por manufaktur tumbuh lemah 12% dalam setahun terakhir periode Maret 2017-Februari 2018 dan impor tumbuh lebih cepat sebesar 18,7% pada periode sama.

”Memang, peningkatan impor ini sebagian besar sekitar 75% didorong oleh belanja bahan baku dan bahan penolong yang merupakan indikasi terjadinya peningkatan aktivitas industri manufaktur di dalam negeri,” kata dia. (Oke)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here