Home Nasional Tokoh Referendum Aceh, Muhammad Nazar, Sebutkan Ada Kepentingan Pribadi

Tokoh Referendum Aceh, Muhammad Nazar, Sebutkan Ada Kepentingan Pribadi

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Tiba-tiba jagad politik nasional dikejutkan dengan permintaan referendum dari Mualem Muzakir Manaf, pimpinan tertinggi Partai Aceh (PA) sekaligus Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Sandi di Aceh.

Lantas apa pendapat Muhammad Nazar, yang pernah menjadi Koordinator Sentra Informasi Referendum Aceh (SIRA), menggerakkan 2 juta rakyat Aceh menuntut referendum di Halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada 1999?

“Saya melihat memang mudah mengingatkan kembali kata referendum kepada sebagian besar rakyat Aceh karena telah ditancapkan kuat dulu, hingga ke pelosok desa ke dalam hati masyarakat,” kata Muhammad Nazar seperti dikutip dari Serambinews, di Jakarta, Rabu (29/5) malam.

Tapi Nazar tidak melihat adanya tanda-tanda masalah antara hubungan Aceh dan Jakarta saat ini, sehingga dibutuhkan referendum.

Berbeda dengan pada masa orde lama, orde baru dan beberapa tahun dalam masa transisi reformasi di Indonesia karena keburukan pemerintah RI terhadap Aceh, hubungan menjadi retak, dan itu bisa dibuktikan.

“Tapi paska MoU Helsinki, mulai pertengahan tahun 2012 dan seterusnya yang muncul justru kelemahan di Aceh sendiri. Kalangan pemimpin lokal, eksekutif dan legislatif hingga ke kabupaten kota menunjukkan ketidakmampuan,” ujar Nazar.

Terkait ajakan referendum yang disuarakan Mualem Muzakir Manaf, lanjut Muhammad Nazar, lebih kepada adanya kekecewaan dan depresi sosial politik para pendukung fanatik Prabowo.

Menurutnya itu tidak bermanfaat sama sekali untuk perbaikan keadaan di Aceh, bahkan jika dipaksakan dan dipropagandakan secara berlanjut justru merugikan Aceh.

“Dengan kasat mata politik kan bisa dilihat itu ada kepentingan pribadi, kekecewaan dan bisa ditunggangi. Kita tidak pernah berharap lagi ada orang Aceh atau tokoh lokal Aceh yang direkayasa orang lain lalu jualan isu perjuangan Aceh untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu dengan elit pemerintah di daerah maupun di pusat,” ujar Nazar.

Muhammad justru menyarankan, Aceh kalangan luar Jawa harus bersiap dengan segala kemampuan dan keahlian untuk membangun secara cepat, berkualitas dan bermanfaat jangka panjang.

“Sehingga apapun yang terjadi terhadap Indonesia, ya Aceh harus siap. Demikian juga di luar Jawa harus siap. Jika ada kesiapan itu, manakala Indonesia eksis, maka rakyat Acehpun berperan. Dan jika Indonesia bubar maka Acehpun siap,” ujarnya.

Ia menyarankan para pemimpin Aceh dan luar Jawa menyiapkan rakyatnya, seperti kesiapan Kazakhstan, yang pernah kuat saat bersama Uni Soviet dan tetap kuat dan siap ketika Societ bubar dan Kazhkhstan menjadi negara.

“Kalau sekarang kan cuma siap ngomong kata referendum saja. Begitu dituding makar atau dikejar aparat pasti berbondong-bondong lagi bikin paspor lari ke Malasyia atau Thailand,” kata Muhammad Nazar.

Nazar menyerukan agar tidak usah main sinetron politik Jakarta dengan memakai kamuflase perjuangan.

“Suara referendum dalam dua hari terakhir yang dimulai oleh Muzakkir Manaf saya kira itu sinetron politik Jakarta, terkait Pilpres dan masalah-masalah lokal lain yang dihadapi oleh orang atau lembaga tertentu. Bukan murni perjuangan. Kita ingin jangan ada lagi ada rakyat dan tokoh Aceh yang membiasakan diri bermain dalam gendang orang, lalu memanfaatkan masyarakat umum,” lanjut Nazar.

“Kalau memang benar ingin merdeka ya tidak mungkinlah minta referendum pada Jokowi. Dan jika Prabowo menang, tentu lebih tidak mungkin lagi Aceh merdeka. Jadi saya imbau tidak usah bodoh-bodohi rakyat lagi. Kasép bangai sebagian rakyat bèk lé peungeut bèk lé peu bangai. Bèk gadôh peuleumak kuah gop, ubé na u lam lampôh droë jôk pré keu gop,” sebut Nazar mengingatkan.

Justru, yang harus disiapkan, tambah Nazar, siapapun yang akan ditetapkan oleh MK sebagai presiden dan wakil presiden, rakyat Aceh harus siap dalam segala urusan berbangsa dan bernegara, baik jika Indonesia itu tetap ada atau Indonesia bubar.

“Demikian juga rakyat di luar Pulau Jawa. Kan semua bisa terjadi dan tidak ada negara abadi kok di dunia ini, setidaknya ada siklus berubah menjadi kecil, menjadi lebih besar atau bubar sama sekali. Yang penting apapun yang terjadi di sebuah negara ya rakyat tidak akan terjajah karena sudah mempersiapkan diri dari awal. Jadi bukan referendum lagi yang penting sekarang, itu tidak tepat, rumit dan prosesnya kompleks,” demikian Muhammad Nazar.(Ser).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here