Home Nasional Tingkatkan Daya Saing RI untuk Hadapi Gejolak Eksternal

Tingkatkan Daya Saing RI untuk Hadapi Gejolak Eksternal

0
SHARE
Ekonom Indef, Achmad Heri Firdaus

Matanurani, Jakarta – Indonesia mau tidak mau harus meningkatkan daya saing global agar bisa keluar dari tekanan ekonomi yang berasal dari faktor eksternal akibat kebijakan Amerika Serikat (AS), seperti perang dagang dan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS.

Ekonom Indef, Achmad Heri Firdaus, mengemukakan secara bilateral memang betul Indonesia saat ini menghadapi tekanan dari AS, salah satunya rencana pencabutan fasilitas Generalized System of Preference (GSP).

Fasilitas ini sangat penting karena bila dicabut ekspor Indonesia ke AS bakal terhambat. “Kalau tidak ada fasilitas itu, Indonesia akan sulit ekspor ke sana, karena tarif impornya mahal,” kata Heri, di Jakarta, Senin (23/7).

Menurut dia, pencabutan fasilitas tersebut pada dasarnya adalah hak pemerintah AS. Sayangnya, Indonesia seperti terlena setelah sekian lama diberikan fasilitas tersebut. Indonesia lupa, kalau GSP itu tidak diberikan selamanya, sehingga ketika di-review, pemerintah merasa cemas.

“Yang tadinya nggak bayar tarif, besok-besok kita harus kena tarif impor. Akhirnya, kalau kita ekspor ke sana jadi nggak kompetitif,” jelas dia.

Meski begitu, menurut Heri, ada beberapa langkah agar bisa keluar dari masalah ini, antara lain negosiasi untuk memperpanjang pemberian fasilitas GSP itu.

“Tapi intinya, harus ada perbaikan daya saing. Itu mutlak. Mau nggak mau, suka nggak suka harus dilakukan oleh Indonesia,” tegas dia. Dia menambahkan untuk meningkatkan daya saing, banyak faktor penentunya.

Bahkan, saat ini perlu perbaikan di sektor hulu hingga hilir. Artinya, mulai dari bahan baku, energi, dan harga harus kompetitif.

“Kita harus meningkatkan produktivitas, artinya dengan biaya sama kita menghasilkan produk yang lebih murah dan lebih bagus. Sehingga kita bisa memasuki pasar AS dan bisa bersaing dengan barang-barang asal negara lain,” tutur Heri.

Sebelumnya, ekonom senior Indef, Faisal Basri, menilai selain faktor eksternal, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS belakangan ini juga disebabkan industri nasional yang lemah.

“Kenapa bisa seperti ini? Karena peranan industrinya turun, negara lain ekspor industri manufakturnya itu lebih besar, kita cuma 40-an persen,” papar Faisal.

Menurut dia, pelemahan industri itu disebabkan perusahaan asing tidak lagi masuk ke industri manufaktur berbasis ekspor, sehingga menyebabkan repatriasi profit perusahaan asing sangat besar.

“Repatriasi profit perusahaan asing luar biasa besar berdasarkan data BI. Current account deficit (defisit transaksi berjalan) kita 17 miliar dollar AS.

Barang masih surplus 27 miliar dollar AS, tapi defisit repatriasi dan bayar bunga itu 33 miliar dollar AS karena asing yang di Indonesia itu tidak lagi di industri manufaktur yang berorientasi ekspor. Jadi, melemahnya rupiah ya karena industrinya semakin melemah,” tukas Faisal.

Tekanan Ekonomi

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan tekanan ekonomi sekarang ini, terutama tekanan dari eksternal, dirasakan semua negara, bukan hanya Indonesia.

Oleh karena itu, Presiden meminta agar Indonesia tidak perlu terlalu khawatir. “Baik yang berkaitan dengan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, juga yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga The Fed di Amerika, yang kita tidak bisa mengintervensi apa pun,”

kata Presiden Jokowi saat bertemu dengan sejumlah wali kota di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin.

“Tetapi yang paling penting, menurut saya, kita tahu apa yang sedang terjadi,” ujar Presiden. Presiden Jokowi mengingatkan perlunya langkah antisipasi terhadap perubahan cepat dunia yang sekarang juga sedang melanda semua negara.(Koj).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here