Home Nasional Perang Dagang Tak Bisa Direm, Rupiah Masih Sulit Bangkit di Tahun Depan

Perang Dagang Tak Bisa Direm, Rupiah Masih Sulit Bangkit di Tahun Depan

0
SHARE

Matanurani, Jakarta  – Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa ketidakpastian global masih akan berlanjut hingga tahun depan. Konsekuensinya, gejolak terhadap nilai tukar rupiah pun masih akan terjadi di 2019.

Dia mengatakan, saat ini perekonomian di Amerika Serikat (AS) dalam kondisi yang sangat bagus. Kemudian, perang dagang yang terjadi antara AS dan China tidak bisa dihadang lagi.

“Kelihatannya perang dagang sudah tidak bisa direm. Ini akan jalan. Masing-masing mulai mengembangkan strategi yang bercabang-cabang. Sehingga untuk nariknya supaya berhenti susah. Perlu waktulah,” katanya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (5/10).

Menurutnya, ketidakstabilan global sudah tidak bisa dihindari lagi. Jadi, pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang menyatakan pada kuartal I-2019 rupiah akan mulai bangkit sulit untuk terealisasi.

“Jadi situasi ini, ketidakstabilan global itu nggak bisa dihindari. Itu akan jalan terus. Malah kalau tadinya dibilang, ya paling kuartal I tahun depan, kayaknya nggak,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pekan ini akhirnya tembus di level Rp15.000 per USD. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengemukakan bahwa tekanan tersebut baru akan lebih reda di tahun depan.

Dia mengatakan, meredanya tekanan terhadap kurs terlihat dari beberapa faktor. Di antaranya, kenaikan suku bunga AS (The Fed) tidak setinggi di tahun 2018.

“Tahun ini (The Fed) naik 1% 4 kali, tahun depan 2 kali, jadi setengahnya. Semoga ketegangan tidak berlanjut,” katanya di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (3/10).

Selain itu, sambung Perry, investor global akan mulai menyimpan kembali dananya di negara-negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia. Sebab, mereka tidak mungkin selamanya menyimpan dananya secara tunai tanpa diinvestasikan.

“Investor global tidak mungkin terus pegang tunai, mereka yang menarik dari emerging market, sekarang sudah mulai taruh di emerging market termasuk Indonesia. Tahun depan mulai taruh kembali di emerging market,” imbuh dia.(Rep).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here