Home Nasional Pemerintah Terus Upayakan Pengakuan Kain Tradisional ke PBB

Pemerintah Terus Upayakan Pengakuan Kain Tradisional ke PBB

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Fesyen selalu berhasil menjadi indikator keadaan politik, ekonomi, dan sosial suatu bangsa. Namun, keberadaan kain tradisional di tengah masyarakat Indonesia memiliki makna yang lebih dalam dari itu.

Upaya pemerintah untuk mengajukan kain tradisional ke Unesco untuk diakui sebagai memory of the wold (MOW) menjadi pertaruhan untuk memperjuangkan martabat bangsa di antara tudingan negara tetangga.

Seperti diketahui, kain batik telah ditetapkan Unesco sebagai warisan budaya milik Indonesia pada 2009 lalu. Sebuah perjuangan yang tidak mudah. Pemerintah dituntut untuk melakukan promosi besar-besaran ke berbagai penjuru dunia.

Dengan adanya pengakuan ini, warisan budaya lebih terjamin keberlanjutannya dan terhindar dari klaim negara lain.
Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Budaya Nadjamuddin Ramly mengatakan pemerintah telah menetapkan sebanyak 594 warisan budaya tak benda (WBtb) Indonesia, sebanyak 33 di antaranya adalah kain tradisional Indonesia.

Namun, saat ini Unesco telah membatasi pengajuan benda warisan budaya untuk satu negara selaha dua tahunan dan pengajuan bersama beberapa negara selama pertahun.

“Dengan siklus dua tahunan, salah satu kain ini akan kami ajukan ke Unesco untuk menjadi warisan budaya dunia. Namun, kalau ada 594 WBtb siklus tahunan, baru bisa 1.000 tahun yang akan datang sampai semuanya diakui PBB,” ujarnya.

Di antara 33 kain tradisional, kain kulit kayu atau mbeha yang berasal dari Bengkulu menjadi salah satu kain tradisional yang hampir punah. Bahan yang digunakan adalah kulit kayu nunu, ivo, tobula, thea dan malo panjangnya 20-30 meter, yang sudah sulit ditemukan sekalipun di daerah asalnya.

Padahal, kain ini masih sangat dibutuhkan untuk masyarakat adat. Fungsi sosial kain kulit kayu ini umumnya digunakan pada upacara-upacara tradisional sesuai dengan jenis dan fungsinya. Ada perbedaan pakaian adat yang digunakan oleh bangsawan dan masyarakat kalangan umum.

Untuk itu, rasanya memang tidak cukup hanya dengan memakainya, tetapi pemerintah harus memastikan sumberdaya baik alam dan manusia bisa terus eksis untuk menunjang produksi kain tradisional. Faktor-faktor ini turut menjadi indikator penilaian Unesco untuk lolos menjadi MOW.
Kerusakan alam telah menyulap hutan menjadi kebun sawit. Dengan begitu, kita bisa mengarahkan pasar untuk lebih ramah terhadap produk tradisional yang asli dibuat oleh perajin di daerah.

Sebagai tanda penghargaan kepada maestro yang berperanaktif pada pelestarian budaya, pemerintah setiap tahunnya menyelenggarakan penganugerahan kepada maestro tradisi, salah satunya dengan bantuan dana sebesar Rp25 juta per tahun sepanjang masa hidupnya.

Hingga saat ini, pemerintah belum memgusulkan kain tradisional ke PBB, melainkan pinisi, pantun yang disulkan bersama Malaysia, dan pencak silat.(Bis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here