Home Nasional Pembatasan Impor Momentum Wujudkan Kedaulatan Produksi

Pembatasan Impor Momentum Wujudkan Kedaulatan Produksi

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Rencana pemeritah mengendalikan impor barang konsumsi yang bisa disubstitusi dengan produk dalam negeri jangan sekadar upaya reaktif atas memburuknya defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD).

Kondisi saat ini mesti dijadikan momentum bagi Indonesia untuk benar-benar memangkas impor demi terwujudnya kedaulatan produksi nasional.

Ketua Departemen Sosial Ekonomi Pertanian UGM, Jangkung Handoyo Mulyo, menilai langkah pemerintah mempertimbangkan pembatasan impor saat ini sebenarnya sudah terlambat.

Diskusi dan janji untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan mandiri sudah sering diungkapkan pemerintah. Akademisi dan media tidak henti-henti mengingatkan bahaya dari kebergantungan terhadap impor.

Namun, pemerintah terus saja membuka keran impor lebar-lebar sehingga produsen nasional kalah bersaing dan perlahan-lahan mati.

Sementara itu, pengusaha agroindustri juga dipaksa terus bertahan dengan margin kecil karena pengambil kebijakan menganakemaskan importir.

“Kalau menggunakan pendekatan ekonomi politik, memang ada banyak kue ekonomi, ada selisih margin antara di luar dan di sini. Pasti ini memberikan keuntungan dan itu tidak kecil. Ini salah satu resistensi.

Impor gandum, beras, gula, daging, itu kebutuhan sangat mendasar yang terus diimpor dan nilainya luar biasa besar,” papar Jangkung, Senin (27/8).

Jangkung menambahkan generasi kedua dari konglomerat di Tanah Air harus diajak berpikir bisnis jangka panjang dan jangan hanya mengandalkan uang mudah dengan memasukkan barang yang lebih murah dari luar negeri ke dalam negeri.

Apalagi, untuk urusan pangan yang sangat bergantung pada iklim dan risiko bencana yang sewaktu-waktu bisa menurunkan tingkat pasokan. “Pangan berbeda dengan industri lain.

Kalau bencana datang, panen gagal, ada uang pun belum tentu bisa membeli pangan. Bisnis berbasis kemandirian itu akan berkelanjutan, jangan hanya uang mudah dari margin impor saja,” tukas Jangkung.

Oleh karena itu, lanjut dia, saat ini harus benar-benar menjadi momentum bagi pengambil kebijakan untuk berpihak pada produsen nasional. Sektor pertanian butuh kebijakan komprehensif dari hulu sampai hilir dalam jangka panjang. (Koj).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here