Home Nasional Pasangan Capres-Cawapres Didorong Mulai Berdebat Isu-isu Substantif

Pasangan Capres-Cawapres Didorong Mulai Berdebat Isu-isu Substantif

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Analis politik Exposit Strategic Arif Susanto mengatakan, selama masa kampanye yang telah berjalan sekitar dua bulan ini, kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden tak menunjukkan pertukaran ide dan gagasan.

Arif menilai, yang terjadi saat ini justru saling serang, saling melemahkan, adu nyinyir, dan saling lapor ke polisi.

Menurut dia, kampanye yang sejatinya menampilkan pertautan komitmen politik antara pemilih dengan capres-cawapres, menjadi semakin jauh dari harapan.

“Kampanye yang dangkal dengan gagasan. Penyampaian tidak substansial, mengada-ngada, superartifisial,” kata Arif di D Hotel, Jakarta Pusat, Rabu (21/11).

Arif menilai, masa kampanye hingga saat ini lebih banyak diisi olok-olok daripada menawarkan visi, misi, dan program kerja pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Pasangan capres dan cawapres, menurut dia, belum menawarkan program karena cenderung reaksioner.

“Kritik tidak berdasar, tanpa data akurat, sekedar untuk memukul lawan,” ujar Arif.

Arif mengemukakan, tim kampanye gagap menerjemahkan visi menjadi program yang lebih konkret.

Selain itu, para kandidat capres-cawapres juga minim terobosan bagi kampanye cerdas dan kreatif.

Politisasi suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dinilainya juga terus menjebak politik nasional dalam kubangan kebencian.

“Polarisasi politik sudah berlangsung 5 tahun Jokowi-Prabowo merembes ke masyarakat nyaris konflik horizontal antara pendukung A dan pendukung B,” ujar Arif.

Menurut Arif, politisasi SARA hanya bagian dari potret lebih besar “politik olok-olok”.

Hal itu, kata Arif, menunjukkan sempitnya pola pikir, intoleransi, dan instrumentalisme hukum untuk perebutan kekuasaan.

“Bagian mana kampanye yang meningkatkan kecerdasan masyarakat? Saya melihat sebaliknya asumsinya rasionalitas pemilih dikangkangi hasrat kekuasaan para elit yang membuat politik kita irasional,” kata Arif.

Arif mengatakan, dibutuhkan aturan main kampanye yang lebih memadai dari penyelenggara pemilu, apalagi otoritas yang dimiliki saat ini lebih kuat dibandingkan lima tahun lalu.

“Aturan main kampanye yang memadai itu PR (pekerjaan rumah) yang belum dikerjakan oleh KPU,” kata Arif.

Arif meminta setiap pasangan calon maupun tim kampanye harus mengembangkan komunikasi politik yang lebih cerdas dan kreatif.

“Dengan tawaran program jelas dan berkontribusi bagi pencerdasan publik pemilih,” kata Arif.

Hal yang sama dikatakan Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti.

Ia mengatakan, menjelang Pilpres 2019 justru lebih banyak permainan kata-kata, nyinyir, dan berebut ruang publik yang sensasional.

“Kedua belah pasangan ini situasi kampanye dalam 3 bulan terakhir kita lebih bersedih karena ternyata pelaksanaan pemilu 2019 ini kualitasnya menurun dibandingkan 2014 dalam aspek adu gagasan,” kata Ray.(Kps).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here