Home Nasional GAPKINDO: Serapan Produksi Karet Petani Masih Rendah, Hilirisasi Belum Maksimal

GAPKINDO: Serapan Produksi Karet Petani Masih Rendah, Hilirisasi Belum Maksimal

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), Suharto Honggokusumo menilai hilirisasi industri karet nasional belum maksimal menyusul serapan hasil produksi karet petani yang masih rendah.

Saat ini, konsumsi karet alam domestik oleh industri sekitar 18 persen dari total produksi, jauh di bawah rata-rata negara tetangga di kawasan yang mencapai kisaran 40 persen dari total produksi.

Menurut Suharto karet alam hasil produksi petani sebenarnya dapat diolah oleh industri menjadi beragam produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi. Karenanya, perlu langkah-langkah strategis dari pemerintah  untuk dapat memaksimalkan penyerapannya oleh industri.

“Saat ini konsumsi karet alam domestik untuk memproduksi barang-barang karet hanya mencapai sekitar 18 persen dari total produksi nasional,” ujar Suharto saat Fokus Group Diskusi (FGD) bersana Komite Ekonomi dan Industri Nasional ( KEIN), Jakarta, Selasa, (12/9).

Menurutnya, serapan konsumsi karet bagi bahan baku di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara Asia lainnya, seperti Malaysia, India, dan Tiongkok, yang rata-rata mencapai 40 persen dari total produksi.

Gapkindo mencatat industri karet dalam negeri sejauh ini baru menyerap sekitar 550 ribu ton per tahun dari total produksi karet alam yang mencapai 3 juta ton per tahun.

Dari total karet alam yang terserap, 55 persen dimanfaatkan oleh industri ban, 17 persen digunakan oleh industri sarung tangan dan benang karet, 11 persen digunakan oleh industri alas kaki, dan 9 persen digunakan oleh industri barang-barang karet lainnya.

“Industri karet masih menjadi sektor prioritas karena pertimbangan besarnya potensi lahan yang akan mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku industri barang-barang karet untuk jangka panjang,” tutur Suharto.

Sementara anggota KEIN Dr Benny Pasaribu, dalam sambutannya  mengajak para stakeholder untuk memberi masukan memperkaya hal-hal yang penting dalam penyusunan peta jalan industrialisasi pertanian dan kehutanan berbasis karet sebagai policy memo kepada pemerintah.

“Kita sosialisasikan terus kepada stakeholder melalui diskusi untuk menyusun strategi dan membuat kajian-kajian untuk Presiden dalam bidang pertanian dan kehutanan yang lebih detail,” kata Benny.

Selain itu menurut Benny dalam rangka penyusunan peta jalan industrialisasi hilirisasi perlu di dorong dan konektifitas antara hulu dan hilir tetap terjaga dan terserap.

“Hilirisasi perlu di dorong dan konektifitas antara hulu dan hilir tetap terjaga,” pungkas Benny.

FGD bersama KEIN ini dihadiri Deputi Bidang Teknologi AgroIndustri dan Bioteknologi,  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Enny Listyani, Kementerian Pertanian  Direktorat Jenderal Perkebunan, dan Robert Manurung, Akademisi ITB yang juga anggota kelompok kerja KEIN. (Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here