Home Nasional Ekonomi PR Terberat Kabinet Jokowi

Ekonomi PR Terberat Kabinet Jokowi

0
SHARE
Jokowi dan Maruf Amin

Matanurani, Jakarta – Persoalan pembentukan kabinet pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin (KMA) seharusnya menimbang kebutuhan dasar atas solusi persoalan bangsa.

Persoalan pertumbuhan ekonomi, misalnya, membutuhkan perhatian besar karena selama lima tahun terakhir dinilai maksimal. Dalam beberapa hari terakhir, perbincangan postur kabinet lebih didominasi pada berapa jatah dari masing-masing partai politik koalisi atau perlu tidaknya mengajak koalisi Prabowo-Sandi masuk dalam pemerintahan.

Padahal, diskusi postur kabinet akan lebih efektif jika didasarkan pada identifikasi persoalan yang harus menjadi fokus pemerintahan ke depan dan figur-figur yang tepat untuk membentuk presiden dan wakil presiden terpilih untuk menyelesaikannya.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, persoalan ekonomi harus menjadi fokus kabinet Jokowi-KMA. Menurutnya, dalam periode pemerintahan Jokowi, target pertumbuhan ekonomi secara umum belum tercapai.

“Secara umum paling gampang lihat perekonomian itu di pertumbuhan, karena pertumbuhan itu merepresentasikan ada di masyarakat. Maka pada periode kedua pemerintahan Jokowi harus ada upaya lebih keras untuk meningkatkan performa pemerintah di lima tahun ke depan,” ujarnya dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk “Evaluasi Kinerja Ekonomi Nasional, Perlukah Menteri Baru?” di Media Center Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, kemarin.

Di awal pemerintahan Presiden Jokowi, sambungnya, pertumbuhan ekonominya di bawah 5% yakni 4,8%; kemudian dilakukan berbagai macam upaya kebijakan dan terobosan yang akhirnya pertumbuhan ekonomi mampu meningkat di atas 5%.

“Ketika di awal pemerintahan masih ada pilihan terhadap orang-orang yang duduk di kabinet itu yang masih belum tepat, perkembangan ekonominya masih turun, dan ketika dilakukan peng gantian kemudian pertumbuhan ekonominya menjadi naik. Artinya, ada kinerja di sana,” katanya.

Dikatakan Eko, sejak awal RPJMN 2014-2019 itu dipasang dengan harga yang cukup ambisius, di mana pertumbuhan ekonomi ditargetkan rata-rata 7%, namun hasilnya sekarang ini hanya mencapai di kisaran 5%.

“Harapan saya, ke depan tim ekonomi itu harus dikocok ulang karena memang dibutuhkan orang yang benar-benar bisa mengimplementasi kan harapan di dalam rencana tersebut,” ujarnya. (Sin).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here