Home Nasional Ekonomi Masih Tunggu Investasi dan Konsumsi

Ekonomi Masih Tunggu Investasi dan Konsumsi

0
SHARE

JAKARTA,17/07-EKSPOR IMPOR SURPLUS. Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Indonesia, Tanjung Priok, Jakarta, Senin (17/07). Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami surplus selama semester I (Januari-Juni). Berdasarkan data BPS, nilai ekspor dan impor pada pertengahan tahun 2017 mengalami surplus sebesar USD7,63 miliar. Dengan rincian total ekspor semester I, capaiannya meningkat 14,03% (USD79,96 miliar) , dan total impor naik 9,6% (USD72,33 miliar). KONTAN/Fransiskus SImbolon/17/07/2017

Matanurani, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Agustus 2017 surplus US$ 1,72 miliar. Surplus tersebut tergolong surplus besar, yakni terbesar sejak tahun 2012.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, surplus tersebut disumbang oleh nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan nilai impor Agustus. Catatan BPS, nilai ekspor Agustus mencapai US$ 15,21 miliar dan nilai impor sebesar US$ 13,49 miliar.

Nilai ekspor Agustus 2017 tersebut naik 11,73% dibanding bulan sebelumnya dan naik 19,24% dibanding Agustus 2016. Sementara nilai impor tersebut turun 2,88% dibanding Juli 2017 tetapi naik 8,89% dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

Suhariyanto melihat, ekspor dan impor sudah lebih positif dibandingkan dengan tahun lalu yang terlihat pada triwulan IV 2016 yang ekspor impornya negatif. Menurutnya, pencapaian pada Agustus ini mulai positif, walaupun masih tipis.

“Yang kemarin triwulan II lumayan bagus. Kami harap triwulan III bagus sehingga berkontribusi baik terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Suhariyanto di kantornya, Jumat (15/9).

Namun demikian, pertumbuhan ekonomi masih amat tergantung pada konsumsi rumah tangga dan investasi karena share-nya yang besar. Konsumsi rumah tangga dan investasi masing masing berkontribusi 55% dan 32%, sehingga keduanya perlu untuk dijaga.

“Tentunya kalau ekspor lebih tinggi akan lebih bagus, Impor agak berkurang, tapi kalau dilihat perkembangan cenderung impas-impas ya. Tapi kami lihat ke depan trennya akan bagus (kinerja eksim) terhadap pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Ia melanjutkan, untuk sepanjang tahun, ekspor impor biasanya tiap triwulan kontribusinya 20-21%. “Dalam hal ini 20 ekspornya jadi penambah, impornya jadi pengurang 20:19 atau 20:21. Jadi pertumbuhan ekspor besar tapi pertumbuhan impor gede, yang satu jadi plus yang satu pengurang,” ujar dia.

Menurut Suhariyanto apabila melihat total surplus Agustus yang jauh lebih besar dibandingkan surplus tahun lalu tadi berarti total ekspor lebih tinggi dari total impornya. “Sehingga mudah-mudahan pertumbuhan ekspor tinggi, pertumbuhan lebih landai,” katanya.(Ktn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here