Home News Menlu: Negara Berkembang Harus Junjung Nilai-nilai Kestabilan Global

Menlu: Negara Berkembang Harus Junjung Nilai-nilai Kestabilan Global

0
SHARE
Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi memberikan keterangan pers terkait rencana eksekusi mati dua warga negara Australia di Kantor Kemenlu Jakarta, Selasa (17/2). Menlu Retno menyatakan eksekusi mati dua warga Australia yakni Andrew Chan dan Myuran Sukumaran yang tergabung dalam jaringan Bali Nine yang berusaha menyelundupkan heroin seberat 8,2 kg merupakan upaya penegakkan hukum bukan karena sentimen pada negara tertentu. ANTARA FOTO/Andika Wahyu/mes/15.

Matanurani, Jakarta – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa negara-negara berkembang, yang akan memiliki peran besar di masa mendatang sebagai ekonomi yang mendominasi, harus terus berpegang pada sejumlah nilai-nilai yang dapat berkontribusi pada kestabilan global.

Hal itu disampaikan Menlu Retno saat berbicara dalam pembukaan acara Conference on Indonesian Foreign Policy 2019: Cooling Off a World in Hot Peace di Jakarta, Sabtu (30/11).

Dia menyebutkan bahwa Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar di dunia pada 2030 mendatang, bersama dengan China, India, Amerika Serikat dan Turki.

“Ini artinya negara-negara berkembang akan memiliki peran yang lebih besar,” katanya.

Hal tersebut, menurut dia, akan menimbulkan berbagai pertanyaan soal nilai-nilai dan aturan main baru global. Dalam konteks tersebut, negara-negara berkembang harus menjunjung nilai-nilai yang berkontribusi pada perdamaian dan tidak memicu ketegangan.

“Bagi Indonesia, apa pun aturan main yang diadopsi oleh negara-negara besar yang baru nantinya, nilai-nilai seperti demokrasi, promosi dan perlindungan hak asasi manusia (HAM), dan tatanan berdasarkan aturan (rule-based order) harus terus dijunjung,” ujar Retno.

Selain itu, negara-negara yang akan menjadi ekonomi terbesar di masa depan juga harus menghormati hukum internasional yang berlaku. Dengan demikian, negara-negara berkembang yang akan menjadi para pemain besar di tataran global tak akan menjadi ancaman. Mereka justru akan menjadi mesin penggerak bagi perdamaian dan kemakmuran.

“Mereka akan dapat mengubah ‘hot peace’ (keadaan damai diwarnai ketegangan,red) menjadi perdamaian yang produktif,” katanya.

Menlu RI pun berpesan pada generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin kala Indonesia mengambil posisi sebagai ekonomi besar di dunia, agar menggunakan pemikiran yang tak lagi asing dengan globalisasi, untuk mendukung perdamaian dan kemitraan antar negara.

“Mainkan peran yang hebat dan tetap kompetitif dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dan jangan pernah meninggalkan keberagaman, toleransi dan perdamaian yang Indonesia junjung dan hargai,” ujarnya.(Ant).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here