Home News KTT Asean Percepat Kemitraan Perdagangan Bebas

KTT Asean Percepat Kemitraan Perdagangan Bebas

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Para pemimpin Asia Tenggara sepakat bekerjasama mencapai kesepakatan menjelang akhir tahun ini untuk membentuk blok perdagangan bebas terbesar di dunia.

Upaya untuk mempercepat kesepakatan perdagangan bebas bernama Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership) nenjadi inti dari pembicaraan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean di Singapura pada Sabtu (28/4).

“Kami sangat berharap dapat mencapai kesepakatan tahun ini karena jika tidak, kedepannya bisa lebih sulit,” ujar PM Singapura Lee Hsien Loong mengacu kepada even politik seperti Pemilu di kawasan Asean tahun ini, seperti dikutip Bloomberg, Minggu (29/4).

JIka nantinya kesepakatan itu tercapai, sebanyak 10 negara anggota Asean serta China, India, Jepang, Korea Selatan, Australia., dan Selandia Baru akan menjadi anggota kemitraan tersebut.

Adapun seluruh anggota kemitraan ini mewakili sepertiga dari ekonomi dunia dan hampir setengah dari populasi di dunia.

Sementara pakta ini tidak mencari upaya untuk menetapkan standar tinggi di beberapa area, seperti pekerja dan keamanan lingkungan, layaknya kemitraan perdagangan bebas 11 negara dalam Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CP-TPP) yang ditandatangani lebih dulu pada awal tahun ini, konsensusnya terbukti masih sulit dipahami.

Hambatan terbesar sejauh ini adalah persyaratan dari India. Negeri Bollywood meminta setiap kesepakatan yang mengurangi tarif barang dan jasa harus memperbolehkan pula pergerakan bebas sumber daya manusianya.

Hal ini menjadi perhatian India karena mereka memiliki kemampuan tinggi dalam sektor teknologi informasi.

Sementara itu, Lee juga tidak bisa mengesampingkan adanya kemungkinan anggota kelompok kemitraan ini dapat berkurang jika nantinya tidak tercapai kesepakatan dalam waktu dekat.

“Niat awalnya adalah menyertakan semua 16 negara,” tambah Lee.

Selain itu, Lee juga menjelaskan mengenai perundingan untuk menyelesaikan kode etik maritim terkait sengketa Laut China Selatan akan memakan waktu beberapa saat.

Sengketa Laut China Selatan merupakan daerah teritorial milik Beijing yang mendapatkan klaim dari beberapa negara anggota Asean seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Dengan perbedaan pandangan mengenai kode etik yang harus mengikat secara hukum, Lee menambahkan, mencapai kesepakatan mengenai hal ini tidak akan mudah,

“Akan tetapi, lebih baik kita menggunakan waktu untuk membicarakan kode etik secara konstruktif dan menjaga tensi tetap rendah, yang selama ini belum pernah dicoba,” ujarnya.

Lee mengungkapkan, para pemimpin Asean juga akan menerima pengarahan dari Myanmar terkait situasi di Rakhine, di mana lebih dari 600.000 jiwa pengungsi Rohingya menyeberang ke Bangladesh sejak Agustus silam.

“Kami mendorong Myanmar dan Bangladesh untuk terus menjalankan komitmen bersama mereka dalam upaya sukarela untuk mengembalikan warga terlantar dengan aman dan bermartabat tanpa adanya penundaan,” kata Lee.

Lee juga menyatakan bahwa para pemimpin Asean memuji Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antar-Korea pada Jumat (27/4).

Adapun pertemuan itu berkontribusi untuk keamanan dan stabilitas kawasan Asia, termasuk Asean. Selain itu, imbuh Lee, rencana Presiden Korea Utara Kim Jong Un untuk bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura belum memberikan keterangan resmi kepada Negeri Merlion. (Bis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here