Home News Klaster Keluarga Jadi Penyumbang Tertinggi Kasus Covid-19 di Lima Daerah

Klaster Keluarga Jadi Penyumbang Tertinggi Kasus Covid-19 di Lima Daerah

0
SHARE
Sejumlah petugas medis memakamkan jenazah pasien positif COVID-19 dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (28/3/2020). Pemprov Sumbar mencatat sebanyak 7 orang positif COVID-19 di provinsi itu, 16 orang menunggu hasil dan satu pasien positif warga Padang meninggal. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/hp.

Matanurani, Jakarta – Seorang analis data yang juga merupakan inisiator pandemic talks, Firdza Radiany menyoroti tingginya klaster keluarga dalam penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia.

Firdza mengatakan ada beberapa daerah yang terdeteksi klaster keluarga tertinggi di Indonesia. “Jadi kami mencoba menghimpun data-data, ternyata kemunculan klaster keluarga ini cukup banyak dan cukup signifikan. Ini baru yang terdeteksi ya di Bogor itu 48 klaster keluarga dengan 189 kasus. Yang paling parah di Bekasi 155 klaster keluarga dan ada 437 kasus atau orang. Di Yogyakarta ada 9 klaster dengan 13 kasus, Semarang 8 klaster dengan 10 kasus, di Malang ada 10 klaster dengan 35 kasus,” ungkapnya dalam diskusi di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, Senin (7/9).

Firdza pun menjelaskan bagaimana proses klaster keluarga terjadi yang menjadi penyebab terpaparnya Covid-19. “Jadi kami menyimpulkan klaster keluarga itu terjadi ketika salah satu anggota keluarga yang biasanya beraktivitas di luar rumah terkena virus atau terpapar virus lalu menularkan ke dalam anggota keluarga lainnya. Sehingga dalam rumah tersebut seluruh anggotanya itu terkena Covid-19 pada akhirnya,” jelasnya.

Dia menilai, munculnya klaster keluarga ini bisa disebabkan dari klaster perkantoran. Namun yang paling berbahaya lagi adalah culture sosial saling berkunjung antar sesama rumah akan mempercepat penularan klaster keluarga ini. “Yang paling bahaya lagi adalah dengan culture sosial bangsa Indonesia yang berkunjung sesama rumah, antar warga ini semakin mempercepat penularan klaster antar rumahnya. Hal ini diperburuk lagi karena beberapa warga itu menolak untuk tes swab karena stigma dijauhi oleh keluarga, lingkungan, dan seterusnya,” ungkapnya.(Sin).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here