Home News Jokowi Tunjuk Menristek Pimpin Percepatan Vaksin Merah-Putih

Jokowi Tunjuk Menristek Pimpin Percepatan Vaksin Merah-Putih

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Bambang Brodjonegoro selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Pengembangan Vaksin Merah-Putih.

Hal itu disampaikan Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8).

“Presiden sudah keluarkan perpres rencananya minggu ini di mana pimpinan dari pada Vaksin Merah Putih untuk percepatan di bawah Pak Bambang Brodjonegoro (Menristek/Kepala BRIN),” ujar Erick.

Sementara itu sebagai wakil ketua adalah Menteri Kesehatan Letnan Jenderal TNI (Purn) dr. Terawan Agus Putranto. Di struktur itu, Erick juga menjabat sebagai wakil ketua.

“Karena memang infrastruktur yang akan digunakan sebagian besar dari perusahaan BUMN,” katanya.

Seperti diketahui, vaksin Merah-Putih merupakan inisiatif mandiri pemerintah dalam penanganan Covid-19. Pengembangan turut melibatkan LBM Eijkman yang dikepalai Amin Soebandrio.

Dalam wawancara dengan CNBC Indonesia beberapa waktu lalu, Amin mengungkapkan perbedaan vaksin Merah Putih yang sedang dikembangkan pihaknya dengan vaksin Covid-19 milik China Sinovac Biotech.

Amin mengatakan perbedaan vaksinnya ada pada platform yang digunakan. Vaksin Sinovac China menggunakan virus utuh sebagai antigen-nya. Virus dari China dibiakkan kemudian setelah banyak dimatikan dengan bahan kimia atau cara-cara lain lalu dimurnikan virusnya dan dipisahkan dengan bagian-bagian lain dan itu langsung dipakai sebagai antigen sebagai bahan vaksin.

“Nah, yang dilakukan oleh Kalbe Farma mereka menggunakan platformnya DNA. Jadi DNA Vaksin akan diberikan ke subjek melalui suntikan untuk DNA bisa masuk ke Sel,” ujarnya.

Amin mengungkapkan aksin merah putih hanya menggunakan bagian yang dibutuhkan dari virus. Eijkman mengisolasi dua bagian virus yang terpenting dalam patogenisitasnya, yaitu spike protein dan nukleus capsid protein.

“Itu yang dijadikan antigen dan itu saja yang diberikan kepada subjek. jadi tak lebih dari dua protein tadi. Tentu dari virus itu kami berharap bisa mengurangi efek-efek yang tidak diinginkan akibat diberikannya protein-protein lain dari virus. tentu ini harus dibuktikan melalui uji pre-klinis dan uji klinis satu, dua, dan tiga,” kata Amin.

LBM Eijkman menargetkan akan menyerahkan bibit vaksin ke industri pada bulan Februari atau Maret 2020 kepada Bio Farma. Setelah itu akan dilakukan uji klinis fase satu, dua, dan tiga.

Uji klinis adalah pengujian vaksin kepada hewan dan manusia untuk menemukan manfaat dan efektivitas vaksin dalam memerangi penyakit. Setelah uji klinis selesai maka akan dimintakan izin kepada otoritas kesehatan Indonesia untuk mendapatkan izin edar.

“Penyuntikan pertama (uji klinis fase satu) kemungkinan trimester kedua 2021 dan [uji klinis] diprediksi selesai akhir 2021 dan produksi massal [vaksin] pada awal 2022,” ujar Amin.

Adapun vaksin Sinovac sedang dilakukan uji klinis fase ketiga di Bandung, Jawa Barat. Uji Klinis ini melibatkan 1.620 orang. Hasil uji klinis ini akan diumumkan pada awal 2021 dan bila berhasil akan diproduksi massal oleh Bio Farma.(Cnb).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here