Home News Investasi Tumbuh Hampir 12%, Lima Tantangan Ini Harus Diwaspadai

Investasi Tumbuh Hampir 12%, Lima Tantangan Ini Harus Diwaspadai

0
SHARE

Matanurani, Jakarta — Pengamat menilai pertumbuhan investasi pada kuartal pertama cukup memuaskan dan dapat tumbuh lebih kuat ke depannya.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total investasi dari dalam dan luar negeri sebesar Rp185,3 triliun pada kuartal I/2018 atau meningkat 11,8% dari periode yang sama tahun lalu Rp165,8 triliun.

Sementara itu, jika dilihat pertumbuhan realisasi investasi pada kuartal pertama tahun-tahunnya, tren tersebut menunjukkan penurunan, yakni pada 2017 (13,1%), dan 2016 (18,1%).

Meskipun begitu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Samual mengatakan realisasi investasi tersebut masih terbilang sangat baik.

“Bagus, ada perbaikan memang pada kuartal I selalu ada pengaruh musiman, dua atau tiga tahun terakhir memang seperti itu,” katanya kepada Bisnis, Selasa (1/5).

Walaupun ada efek musiman, David memperkirakan masih akan ada pertumbuhan yang kuat pada kuartal-kuartal berikutnya.

Kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh pihak swasta yang akan lebih gencar dalam ekspansi usaha, dan pemerintah yang merealisasikan belanja modalnya.

Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Pieter Abdullah Redjalam berharap, Pemerintah tidak cepat bersenang hati dengan pertumbuhan realisasi investasi yang cukup memuaskan tersebut.

“Karena tingkat investasi kita masih kalah dengan negara-negara tetangga, khususnya dengan Vietnam.”

Selain itu, Pieter juga berharap pemerintah tetap konsisten dengan janjinya dalam memperbaiki kemudahan berusaha (EoDB). Dengan begitu gap antara komitmen dan realisasi investasi dapat diminimalisir.

“Karena masih ada kendala di lapangan yang mengakibatkan beberapa investasi sudah direncanakan, bahkan sudah dimulai, tetapi batal terwujud,” jelasnya.

Adapun, kendala yang dimaksud Pieter adalah persoalan pembebasan lahan, lemahnya koordinasi antar instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah, sampai sulitnya mendapatkan bahan baku produksi.

Disisi lain, Peneliti INDEF M. Rizal Taufikurahman menjelaskan, ada beberapa penyebab yang membuat realisasi investasi kuartal I tidak tinggi, pertama, iklim investasi. Maksudnya, iklim investasi tahun ini tidak cukup kuat seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Meskipun infrastruktur pada kurun waktu satu tahun ini sedang giat-giatnya dibangun,” imbuhnya

Kedua, pelayanan perizinan masih kurang cepat dan mkurang mudah.

Ketiga, suku bunga investasi belum dipandang kompetitif oleh para investor. Hal tersebut, menurutnya, juga memberika dampak yang signifikan pada ketidak tertarikan investor.

“Apalagi selama ini program suku bunga yang relatif kompetitif hanya untuk UKM saja, sedangkan untuk perusahaan besar tidak demikian,” imbuhnya.

Keempat, kurs rupiah terhadap US$ yang semakin melemah membuat banyak investor shifting ke sektor keuangan, dari pada sektor riil.

Kelima, daya beli masyarakat yang lemah tidak memberi kepastian kepada investor bertahan. (Bis).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here