Home News Ini kata ekonom soal unrealized loss investasi BP Jamsostek

Ini kata ekonom soal unrealized loss investasi BP Jamsostek

0
SHARE

JAKARTA,03/05-KELOLA DANA BPJS KETENAGAKERJAAN. Para peserta sedang meunggu untuk mendapatkan pelayanan di kantor BPJS Ketenagakerjaan, Jakarta, Selasa (03/05). Badan Penyelenggara Jjaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan) menggenjot dana iuran peserta. Perusahaan yang dulu bernama Jamsostek ini gencar bekerjasama dengan berbagai pihak agar perusahaan disiplin membayar iuran kepesertaan karyawannya. Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto mengatakan, saat ini, total dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp 213 triliun. Angka ini sudah mencapai 86% dari target dana kelolaan akhir tahun sebesar Rp 246 triliun. KONTAN/Fransiskus Simbolon/03/05/2016

Matanurani, Jakarta – Ekonom sekaligus pengamat keuangan dan investasi dari IPMI International Business School Roy Sembel menyebut fenomena unrealized loss kini menjadi momok yang menakutkan karena berpotensi menjadi ancaman kriminalisasi sehingga sangat menakutkan bagi dunia investasi setelah Kejaksaan Agung (Kejagung) RI melakukan penyidikan terhadap BPJS Ketenagakerjaan (BPJamsostek).

Beberapa bulan terakhir, masyarakat dikagetkan dengan tuduhan kerugian tidak wajar, yang berpotensi pidana pada unrealized loss portofolio saham BP Jamsostek.

“Kerugian ini, terkesan dipaksakan padahal hasil kajian menunjukkan bahwa proses investasi portofolio BP Jamsostek sudah prudent dan sesuai kaidah-kaidah investasi. Alokasi aset telah memperhatikan aspek pengelolaan resiko yang relatif baik,” kata dia dalam keterangannya, Jumat (12/3).

Di dalam masing-masing kelas asset, lanjut Sembel,  dilakukan strategi pemilihan sekuritas (securities selection) atau manajer investasi yang cocok dengan tujuan investasi. Bahkan, dalam pemilihan manajer investasi relatif ketat. Syaratnya harus mempunyai dana kelolaan minimal Rp 1,5 triliun.

Dia bilang data portofolio sahamnya diinvestasikan pada saham-saham LQ-45. Itu artinya isi portfolio sahamnya dominan terdiri dari saham-saham berkapitalisasi pasar besar dan relatif likuid. Tidak perlu diragukan lagi tentang saham-saham LQ-45. Penurunan dan kenaikan harga saham sangat tergantung pada perkembangan pasar modal di Indonesia.

“Unrealized loss masih sejalan dengan perkembangan pasar saham Indonesia hal itu tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terdampak krisis pandemi dan resesi ekonomi,” tambah dia.

Sambung Sembel, unrealized loss-nya naik turun sesuai dengan naik turunnya IHSG. Pada saat IHSG di level 5.979 (31 Desember 2020) unrealized loss mencapai Rp 22,308 triliun, tapi ketika IHSG di level 6.429 (20 Januari 2021) lalu, unrealized loss nya menurun menjadi Rp 14,417 triliun atau 2,91% dari total portofolio Rp 495 triliun yang mayoritas disebabkan penurunan kinerja emiten BUMN.

“Bukan tak mungkin, ketika IHSG di level 7.000, bukan unrealized loss, tapi bisa berbalik arah menjadi unrealized gain. Hal ini bisa dilihat naik turunnya potential loss itu sangat tergantung dari pergerakan IHSG,” katanya.(Ktn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here