Home News Indonesia Alami Resesi, Perusahaan Jangan Buru-buru PHK

Indonesia Alami Resesi, Perusahaan Jangan Buru-buru PHK

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Badai PHK menghampiri di tengah situasi ekonomi Indonesia resesi. Banyak perusahaan yang mengalami penurunan kinerja dan pendapatan, dan sebagian memilih PHK karyawan untuk bisa bertahan.

Namun, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira justru menyarankan agar perusahaan tak buru-buru melakukan PHK karyawan untuk bertahan. PHK menurutnya harus jadi keputusan terakhir.

Bhima mengatakan, tanpa melakukan PHK, perusahaan bisa memertahankan karyawannya yang memiliki kinerja baik. Soalnya bila ekonomi dan bisnis sudah pulih, pengusaha tak perlu repot lagi mencari karyawan baru. Belum lagi melakukan rekrutmen karyawan baru juga butuh biaya yang tidak sedikit.

“Jadi PHK itu keputusan yang paling akhir. Kenapa? Karena waktu ekonomi beranjak pulih maka perusahaan yang pertahankan karyawan tidak perlu kesulitan untuk memulai lagi ke tingkat produksi normal. Sementara itu, kalau PHK besar besaran yang susah adalah perusahaan sendiri karena harus keluar biaya rekrutmen bahkan pelatihan pegawai baru,” ujar Bhima, Minggu (8/11).

Belum lagi untuk melakukan PHK juga memiliki konsekuensi biaya bagi perusahaan. Bagi tiap karyawan yang di-PHK, perusahaan diwajibkan membayar pesangon. Alih-alih mengurangi beban, justru harus membayar.

“PHK pun memiliki konsekuensi pembayaran pesangon dan biaya lainnya. Sebaiknya hati-hati jika terpaksa harus PHK,” kata Bhima tegas.

Pertumbuhan Ekonomi Minus 3,49%

Terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49% pada kuartal III-2020. Pada kuartal II, realisasi ekonomi Indonesia minus 5,32%.

Senior Partner Michael Albinus, Business Partner/Advisor Dicky memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 4,5% – 5,5% di tahun 2021 mendatang setelah pandemi Covid-19 berakhir.

Tingkat pertumbuhan ekonomi ini diharapkan didukung oleh peningkatan konsumsi domestik dan investasi sebagai motor penggerak utama. Kemudian inflasi akan tetap terjaga pada tingkat 3% untuk mendukung daya beli masyarakat, rupiah pada kisaran Rp14.600 per dolar AS, suku bunga SBN 10 tahun yang diperkirakan sekitar 7,29%.

Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp 1.776,4 triliun. Sementara, belanja negara Rp 2.747,5 triliun. (Det).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here