Home News Gula Lokal Menumpuk di Gudang Bulog, APT2PHI Desak Presiden Hentikan Impor

Gula Lokal Menumpuk di Gudang Bulog, APT2PHI Desak Presiden Hentikan Impor

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Holtikultura Indonesia (APT2PHI), Rahman Sabon mengingatkan pemerintah untuk menghentikan dan mengendalikan impor Gula Kristal Rafinasi yang  bamyak beredar di pasar.

“Kalau impor gula rafinasi tidak segera dikendalikan dan dibiarkan masuk ke pasar ini tentu berbahaya karena akan menjadi persaingan yang tidak sehat bagi produk gula lokal,” kata Rahman Sabon seperti dikutip dari laman cakrawarta, di Jakarta, Sabtu (17/6).

Jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan tegas lanjutnya, dikhawatirkan akan mempersulit Indonesia mencapai kedaulatan pangan karena tidak memberikan perlindungan pada petani tebu dan pabrik gula lokal dari liberalisasi perdagangan gula.

Rahman Sabon menambahkan, APT2PHI juga mendapat laporan terkait adanya penumpukan gula lokal N2 dan N11 di Gudang Bulog Divisi Regional Sumatera Utara yang Jumlahnya sangat fantastis yakni mencapai 10.000 ton.

“Jika ini dibiarkan oleh Pemerintah, maka 59 unit pabrik gula lokal nasional bisa gulung tikar,” ungkap Rahman.

Karena itu, ia menyarankan pemerintah harus segera bertindak. Dan jika kebijakan kedaulatan pangan bisa terwujud maka perlu dilakukan revitalisasi semua pabrik gula peninggalan Belanda yang tersebar di pulau Jawa.

Kedua, impor gula kristal rafinasi harus segera dihentikan dan diganti dengan impor gula kristal merah (raw sugar) untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik gula yang lahan perkebunan tebunya terbatas.

“Jika ini bisa dilakukan, maka akan lebih menguntungkan karena ada kesempatan kerja untuk buruh tani dan harga gula rafinasi dalam negeri jauh lebih murah ketimbang dengan impor,” imbuhnya.

Menurut catatan APT2PHI, harga raw sugar di pasaran internasional saat ini berkisar USD 285-287 CIF per ton Indonesian Port, maka kalau diproses sendiri tentu harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan gula rafinasi impor.

Sedangkan kebutuhan gula nasional tahun 2016, lanjutnya sudah sekitar 5,5-6 juta ton dan produksi nasional dari 59 pabrik gula lokal yang berbasis bahan baku tebu lebih kurang 2,3 juta ton dengan rendemen rata rata 5,7 sampai 6 persen atau sekitar 5 ton per hektar.

Selain dua hal di atas, Rahman Sabon meminta Pemerintah untuk dapat mendorong agar terjadi peningkatan produksi gula nasional. Caranya, lahan tidur yang dikelola oleh Perhutani di pulau Jawa dan Sumatera bisa dimanfaatkan untuk tanaman tebu rakyat dalam meningkatkan produksi gula dalam negeri.

“Semua ini adalah Pekerjaan Rumah besar Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan. Apalagi Permen yang mereka keluarkan tentang pelelangan gula impor justru merugikan petani dan pabrik gula lokal. Presiden wajib mengingatkan menteri terkait agar tidak merugikan program Nawacita,” pungkasnya. (Cak).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here