Home News Ekspor Industri Pengolahan Naik 18,06%, Kontribusinya Capai US$38,96 Miliar

Ekspor Industri Pengolahan Naik 18,06%, Kontribusinya Capai US$38,96 Miliar

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Industri pengolahan masih konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional.

Meskipun di tengah terpaan dampak pandemi Covid-19, sektor manufaktur di tanah air tetap agresif menembus pasar internasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-Maret 2021, total nilai eksp or nasional sebesar US$48,90 miliar atau naik 17,11% dibanding periode yang sama tahun lalu, yang mencapai US$41,76 miliar. Sementara itu, ekspor nonmigas menyumbang hingga 94,58% atau US$46,25 miliar dari total ekspor nasional sepanjang triwulan I-2021.

“Untuk industri pengolahan, pada Januari-Maret 2021, nilai ekspornya menyentuh US$38,96 miliar atau tumbuh 18,06% dibanding periode yang sama di tahun lalu. Sektor manufaktur ini menjadi kontributor terbesar pada nilai ekspor nasional, yakni sebesar 79,66%,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (16/4).

Menperin menjelaskan, perbaikan kinerja sektor industri di tengah masa pandemi ini, terasa sejak awal tahun hingga Maret. Indikasi tersebut tercermin misalnya dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2021 yang berada di level 53,2. Peningkatan PMI manufaktur Maret 2021 menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

“Kita belum pernah capai angka itu sebelumnya. Jadi, sangat wajar kalau hasil ini juga tercermin ke kinerja ekspor dan impor industri pengolahan,” tuturnya.

Pada Januari-Maret 2021, neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$5,52 miliar.

Data BPS juga menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan memegang peranan terbesar terhadap capaian nilai ekspor nasional pada Maret 2021, dengan sumbangsih 80,84%. Di bulan ketiga tahun ini, nilai ekspor industri pengolahan mencapai US$14,84 miliar atau tumbuh 22,27% dari Februari 2021 dan naik 33,45% dari Maret 2020.

“Saya bersyukur melihat angka-angka positif tersebut. Sebab ini menunjukkan bahwa langkah-langkah yang pemerintah ambil untuk mem-push recovery ini menuai hasil yang baik. Tentunya saya tidak ingin lengah, karena pemulihan butuh waktu,” jelasnya. (Aku).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here