Home News Efektifitas Mudik Mendongkrak Ekonomi Daerah

Efektifitas Mudik Mendongkrak Ekonomi Daerah

0
SHARE

Matanurani, Padang  – Tradisi mudik sudah mendarah daging bagi umat Muslim di Indonesia, khususnya yang merantau dari daerah asalnya. Setiap Lebaran, para perantau berbondong-bondong kembali ke daerahnya, baik di Jawa atau di luar Jawa. Harga tiket moda transportasi, terutama pesawat, ikut melangit seiring tingginya permintaan.

Mudik bagi orang Indonesia juga tak sekadar menjalin silaturahim. Di kampung halaman, para perantau juga membelanjakan simpanan uangnya. Terbayang, begitu besar aliran uang dari ibu kota yang masuk ke kantong-kantong di daerah. Lantas seberapa efektifkah mudik mendorong pertumbuhan ekonomi daerah?

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Endy Dwi Tjahjono menjelaskan bahwa berdasarkan pola tahunan yang tercatat, jumlah uang beredar selama Puasa dan Lebaran selalu tumbuh di kisaran 4 persen pertahun.

Namun, Endy punya prediksi adanya pertumbuhan uang beredar yang lebih tinggi pada Puasa dan Lebaran tahun ini. Alasannya, momentum Lebaran berdekatan dengan Pilkada serentak yang membuat konsumsi partai politik ikut melonjak.

“Hal ini akan menambah uang beredar dari partai maupun kadidat individu yang banyak memberikan uang bantuan tunai secara langsung kepada masyarakat,” jelas dia.

Tak hanya itu, peningkatan uang beredar juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah pusat untuk menyalurkan Tunjangan Hari Raya (THR) dengan nominal yang lebih tinggi dibanding tahun lalu. THR, menurutnya, praktis membuat pola konsumsi masyarakat ikut melambung.

“Dampaknya secara langsung akan mendorong kenaikan konsumsi,” katanya.

Peningkatan konsumsi ini lah yang menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Endy berharap, aliran uang masuk ke daerah bisa membantu pelaku UMKM dan pengusaha rumahan untuk menambah modal kerjanya. Peningkatan keuntungan selama musim mudik bisa ikut mengembangkan usaha pelaku UMKM di daerah.

“Namun sejalan dengan kenaikan permintaan tersebut, patut diwaspadai tekanan inflasi yang menyertai. Terutama bila tidak terserap oleh kenaikan produksi,” katanya. (Sin).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here