Home News Dr Benny Pasaribu: Industrialisasi Berbasis CPO Perlu Dibuat dalam Satu Kawasan

Dr Benny Pasaribu: Industrialisasi Berbasis CPO Perlu Dibuat dalam Satu Kawasan

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) mencatat bahwa industri persawitan tanah air bisa bersaing jika sudah mengikuti prinsip satu kawasan. Prinsip satu kawasan menjawab seluruh tantangan persawitan yang akhir-akhir kini menjadi polemik di tanah air.

“Memang masalah sawit sudah lama menjadi kontroversi, bahkan banyak informasi yang simpang siur memperlemah industri persawitan kita. Namun bagaimanapun itu tetap penting namun kita tak perlu terus reaktif, dipersiapkan saja untuk meng-counter isu-isu negatif tersebut dan itu hal yang biasa dalam era persaingan global,” kata Benny.

Selanjutnya menurut Benny, industri persawitan harus tetap berjalan, dan persaingan harus di tingkatkan, karena banyak hal yang perlu dioptimalisasi khususnya pada turunan-turunan produk berbasis crude palm oil dengan bernilai tambah tinggi.

“Seminggu lalu KEIN sudah mempresentasikan paper road map industrialisasi 2045 di hadapan Presiden. Salah satunya adalah pohon industri kelapa sawit. Beliau menyambut baik dalam arti modal kita menjadi industri maju sebenarnya sangat banyak variatif dan sustainable,” ungkap Benny.

Mantan Deputi Meneg BUMN ini menjelaskan banyak hal yang tentunya dapat dilakukan untuk industrialisasi salah satunya adalah meningkatkan nilai tambah dari turunan produk sawit sehingga nilai ekonominya semakin meningkat.

“Bahwa salah satu turunan dari pada produk industri sawit bukan hanya minyak goreng ataupun bio diesel, namun dengan industrialisasi produk olahannya bisa menjadi vitamin A dan vitamin E sehingga memiliki nilai tambah yang tinggi,” terang Benny.

Kalau demikian, lanjut Benny maka negara pasti happy dan para pengusaha luar dan dalam negeri berlomba-lomba memilih produk turunan sawit yang memiliki nilai tambah tinggi. Dan pendapatan dari hasil produk turunan sawit dengan pola nilai tambah yang tinggi bukan lagi 20 Miliar Dollar pertahun, namun dua tahun ke depan bisa mencapai 200 miliar dollar per tahunnya.

Untuk mendorong industrialisasi pada industri sawit KEIN sendiri menurut Benny sedang fokus untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei sebagai industrialisasi berbasis CPO. Menurut Benny, industrialisasi berbasis CPO harus di buat dalam satu kawasan seperti di sei Mangkei.

“Sekarang semua persoalan di Sei Mangkei sedang kita bedah, di awal akan kita buat focus group discussion untuk melihat Sei Mangkei dapat terintegrasi dengan kawasan Danau Toba, Kawasan Industri Medan, pelabuhan Belawan sampai ke Kuala Tanjung dan Singkil Aceh,” tukas Benny.

Dengan demikian, kata Benny infrastruktur yang menghubungkan antar kawasan yang terintegrasi akan mempermudah transportasi logistik, dengan biaya murah. “Jadi saya kira kalau kita mau membangun dan mengembangkan industri apapaun risikonya harus kita lakukan termasuk mendorongnya seperti itu,” ujar Benny.

Selain itu menurut Benny, industrialiasasi persawitan harus juga bermanfaat dan melibatkan banyak tenaga kerja. Tenaga kerja yang terlibat rata-rata lulusan SD dan SMP dan jumlahnya cukup besar. Benny menyayangkan jika Indonesia tiba-tiba loncat bikin industri hightech yang hanya menguntungkan satu atau dua orang saja, padahal dalam industri persawitan banyak melibatkan orang-orang seperti mereka.

“Saya kurang setuju jika Indonesia loncat bikin industri hightech, namun sah-sah saja dan tak perlu kita larang termasuk bisnis online, aplikasi, startup sangat bagus sekali. Nah, kalau mengembangkan industri persawitan maka yang terlibat besar di dalamnya adalah yang lulusan-lulusan SD itu. Itu yang kami pikirkan bagaimana kita membangun industri tapi melibatkan orang-orang seperti ini. Karena disitu ada aset, sumber daya alam dan tenaga kerja,” kata Benny. Karenanya, peranan ketenagakerjaan bukan hanya sekadar jumlahnya tapi melibatkan mereka dan ini yang menarik untuk industrialisasi ke depan.

Selain dari pada itu, Benny mengingatkan RUU persawitan yang kini tengah di godok di DPR harus mendorong pentingnya lembaga prekreditan, dan kemudahan perkebunan rakyat untuk membangun pabrik CPO sendiri, serta memfungsikan koperasi sebagai bagian dari pemerataan pertumbuhan ekonomi.

“Jadi pilihan untuk industrialisasi ini sudah sangat tepat, pola berpikirnya harus integrated bukan kemudian industri-indiustri CPO ada dimana-dimana namun sekaligus kita bikin saja satu kawasan, masukkan semua insentifnya disitu, mulai dari infrastruktur, gas hingga listriknya,” pungkas Benny. (Simon).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here