Home News Diversifikasi Pangan Jangan Gunakan Bahan Impor

Diversifikasi Pangan Jangan Gunakan Bahan Impor

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Sejumlah kalangan mengatakan pemerintah mesti lebih serius mewujudkan diversifikasi pangan selain beras, dengan menggalakkan konsumsi bahan pangan berdasarkan potensi masing- masing daerah.

Diversifikasi pangan dengan menggunakan bahan impor yang tidak bisa diproduksi di Tanah Air, seperti tepung terigu dari gandum, dinilai merupakan strategi keliru karena akan membuat Indonesia justru bergantung pada pangan impor.

Guru Besar Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian UGM, Dwidjono Hadi Darwanto, mengatakan masalah besar selama ini adalah konsumsi masyarakat di seluruh Indonesia hanya didorong kepada dua komoditas utama, yakni beras dan pangan berbasis tepung terigu dari gandum.

Masalahnya, lanjut dia, beras hanya bagus ditanam di Jawa karena padi membutuhkan air yang sangat banyak dan di dataran rendah.

Sedangkan tepung terigu berasal dari gandum yang tidak bisa dikembangkan di Tanah Air. Akibatnya, Indonesia sampai sekarang terus mengimpor gandum hingga mencapai 9-10 juta ton setahun.

“Padahal sejak 1982 sudah ada Keppres mengenai diversifikasi pangan tapi nggak jalan. Malah berasisasi dan gandumisasi yang jalan. Kalau mau keragaman pangan mesti dimulai sekarang, nggak bisa ditunda lagi.

Sebab, ada faktor kesukaan terhadap pangan lokal yang sampai sekarang masih bertahan,” kata Dwidjono, ketika dihubungi, Selasa (31/10). Sebelumnya, Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, mengemukakan pentingnya diversifikasi pangan.

Selama ini, ketahanan pangan sering diartikan penyeragaman makanan pokok. Contohnya, Indonesia selalu menyerukan swasembada beras.

“Padahal, Indonesia diberkahi berbagai jenis makanan pokok yang terbukti bisa memenuhi kebutuhan gizi penduduk lokal,” ujar Nila, Senin (30/10).

Dwidjono menambahkan faktor kesukaan menjadi faktor penting untuk mengembangkan pangan lokal. Dan, untuk membentuk rasa suka itu membutuhkan waktu panjang, bahkan perlu satu generasi.

Menurut dia, di Madura saat ini sebagian penduduk masih sangat menyukai jagung sebagai makanan pokok, begitu juga di Maluku maupun Papua.

“Beri insentif pada Madura, Maluku, dan Papua untuk kembangkan pangan lokal mereka, bukan malah sebaliknya mendorong mereka makan beras dan roti,” tukas Dwidjono.

Anggota Pokjasus Dewan Ketahanan Pangan (DKP), Ahmad Yakub, sebelumnya juga mengatakan umbi-umbian, tepung ubi kayu (modified cassava flour atau mocaf), dan sagu harus menjadi andalan pangan nasional setelah padi, bukan terigu atau kentang impor.

“Indonesia timur tidak ada air untuk padi, yang bisa tumbuh adalah ketela, sagu, dan cassava atau singkong. Ini yang harus dikembangkan menjadi pangan unggulan yang bernilai tambah,” jelas dia.

Menurut Yakub, sangat tidak arif jika Indonesia malah mengadopsi pangan subtropis seperti di Eropa dan Amerika, yakni terigu dan kentang. Ini justru menyebabkan Indonesia bergantung pangan dari petani negara lain, bukan petani sendiri.(Koj).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here