Home News Bulog Diminta Jaga Kestabilan Harga Beras Hingga Akhir Tahun

Bulog Diminta Jaga Kestabilan Harga Beras Hingga Akhir Tahun

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Jelang akhir tahun, pemerintah diminta mencariinovasi dalam menjaga ketersediaan dan kestabilan harga beras. Badan Usaha Logistik (Bulog) diharapkan terus melanjutkan operasi beras demi mengantisipasi lonjakkan harga di akhir tahun.

Demikian dikatakan Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania dalam keterangan resmi, Minggu (6/10).

“Bukan tidak mungkin, jika harga masih terus beranjak naik di tingkat konsumen, Bulog harus kembali melaksanakan operasi pasar untuk menstabilkan harga beras di pasaran sebagai solusi jangka pendek,” ujar Galuh.

Sementara sebagai solusi jangka panjang, Galuh menyebut harus dilakukan koordinasi antarpihak terkait agar fenomena kenaikan harga beras dalam beberapa bulan terakhir tidak menjadi kejadian yang selalu berulang dari tahun ke tahun.

“Kembali lagi, ini harus dijadikan pembelajaran bagi pemerintah untuk menghasilkan kebijakan yang lebih memenuhi kebutuhan masyarakat secara langsung tanpa proses yang panjang dan berbelit-belit,” tuturnya.

Dalam beberapa bulan belakangan, harga beras terus mengalami kenaikan akibat dipicu beberapa hal. Oleh karena itu, pergerakan harga sebagai parameter ketersediaan beras di pasar perlu terus dipantau untuk menjaga daya beli masyarakat.

September 2019 misalnya, harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani tercatat berada di level Rp4.905 per kilogram. Berdasarkan data BPS, jumlah ini meningkat sebesar 3,07% dari bulan sebelumnya sebesar Rp4.759 per kilogram. Kenaikan harga juga terjadi pada Gabah Kering Giling (GKG) yang naik menjadi Rp5.392 dari yang sebelumnya tercatat sebesar Rp5.309.

Galuh mengatakan, faktor yang paling memengaruhi kenaikan harga beras yakni kekeringan di sebagian besar wilayah penghasil beras di Indonesia yang terjadi hingga saat ini.

Kekeringan juga menyebabkan naiknya harga GKP dan GKG yang akan berimbas pada kenaikan harga beras di tingkat konsumen.

“Upaya antisipasi perlu terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan beras di pasar. Bulog juga perlu berinovasi agar proses serapan berasnya bisa berjalan lancar dan memenuhi target. Walaupun hal ini agak sulit karena Bulog terkendala HPP dan juga terkena imbas dari kekeringan yang terjadi,” ungkapnya.

Meski kenaikan tidak terlalu besar, Galuh menilai hal tersebut telah berlangsung selama lima bulan terakhir dan dikhawatirkan akan berlanjut hingga akhir tahun. Oleh karenanya, ia meminta Bulog terus melakukan operasi pasar dan inovasi baru demi menjaga harga beras agar tetap terjaga.(Mei).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here