Home News Bergantung Modal Asing, Pertumbuhan Sulit Kencang

Bergantung Modal Asing, Pertumbuhan Sulit Kencang

0
SHARE

Matanurani, Jakarta– Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai sulit melaju kencang karena masih banyak bergantung pada aliran modal asing dan kredit, bukan ditopang oleh kekuatan fundamental domestik. Tanpa terobosan strategi yang di luar kebiasaan, Indonesia bakal selalu tumbuh di bawah potensinya.

Ekonom Universitas Indonesia, Telisa A Falianty, mengatakan akar permasalahan perekonomian Indonesia tidak bisa tumbuh tinggi karena kurang inklusif. Selain itu, perekonomian lebih banyak ditopang oleh aliran dana dari luar dan kredit.

“Sehingga komponen pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi agak semu,” kata Telisa,  Senin (8/1) kemarin.

Menurut dia, perekonomian Indonesia tahun lalu justru tidak ditopang oleh kekuatan fundamental domestik, tetapi karena aliran modal.

“Bayangkan, ketika perekonomian kita ditopang oleh aliran dana dari luar, begitu ditarik atau terjadi capital outflow, langsung terkena semuanya terutama rupiah langsung melemah,” papar Telisa.

Selain itu, kekuatan ekonomi Indonesia juga bergantung pada kredit bank, sehingga ketika perekonomian melambat kemampuan membayar kredit juga menurun. Akibatnya, untuk melanjutkan peningkatan pertumbuhan menjadi sulit.

“Jadi, itu sebenarnya akar dari sulitnya pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat, yakni bergantung pada modal asing dan kredit,” tegas dia.

Apabila tidak mampu keluar dari stagnasi pertumbuhan ekonomi lima persen per tahun, Indonesia bakal menghadapi sejumlah persoalan di masa mendatang, di antaranya masuk dalam perangkap negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan, Halim Alamsyah, mengungkapkan struktur perekonomian nasional menjerat Indonesia sehingga sulit tumbuh 6 persen atau lebih, padahal potensinya besar.

Setiap kali pertumbuhan ekonomi mengarah ke 6 persen atau lebih, secara otomatis Indonesia menciptakan kerentanannya sendiri. Kerentanan itu adalah melebarnya defisit transaksi berjalan hingga sekitar 3,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Konsekuensinya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tertekan, inflasi merangkak naik, dan suku bunga terdorong ke atas. Dalam kondisi ini, pertumbuhan ekonomi mau tak mau harus turun, kemudian memasuki masa stabilisasi, lantas menuju pemulihan pertumbuhan ekonomi.

“Demikian seterusnya. Saya rasa siklus ini tidak akan putus tanpa strategi baru. Defisit transaksi berjalan merupakan persoalan struktural di Indonesia,” ujar Halim.

Menurut dia, kebijakan industrial yang fokus dan tepat merupakan salah satu kunci untuk memperbaiki struktur itu. Dalam konteks keluaran jangka menengah-panjang, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prasyarat utama. Untuk itu, eksekusinya harus dilakukan mulai dari sekarang.

Halim juga memaparkan, selama 10 tahun terakhir, total arus modal dalam bentuk portofolio lebih kurang 10 miliar dollar AS per tahun. Adapun investasi langsung bersih berkisar 11 miliar–12 miliar dollar AS per tahun. (Koj).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here