Home News Bank Indonesia Naikkan Rentang Defisit ke Level 3%

Bank Indonesia Naikkan Rentang Defisit ke Level 3%

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Pelemahan ekspor yang terimbas dari kondisi ekonomi global membuat Bank Indonesia (BI) menaikkan sasaran defisit transaksi berjalan ke rentang 2,5% hingga 3% produk domestik bruto (PDB) pada 2019 dari sebelumnya absolut di angka 2,5% PDB.

Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, kemarin, mengatakan dua penyebab utama potensi ekspor Indonesia tidak sekencang perkiraan karena meningkatnya tensi perang dagang AS dan Tiongkok, serta pertumbuhan ekonomi global yang semakin melambat.

“Tidak bisa menafikan perlambatan ekonomi global, perang dagang, yang berdampak ke seluruh dunia baik dari sisi perdagangan maupun sisi finansial,” ujar Perry.

Bahkan, Perry menyebutkan ekspor semakin sulit dijadikan sumber pertumbuhan ekonomi jika melihat dinamika perkembangan ekonomi global terutama dari AS dan Tiongkok yang kerap berbalas kebijakan memahalkan tarif impor.

AS dan Tiongkok merupakan mitra dagang Indonesia. Jika keduanya menderita kontraksi perdagangan internasional, Indonesia tidak akan luput terimbas dampaknya. Tiongkok merupakan sasaran ekspor komoditas Indonesia, sedangkan AS ialah penerima ekspor manufaktur Indonesia.

“Sumber pertumbuhan ekspor sulit dijadikan andalan,” tukasnya. Perry menekankan revisi ini juga karena bank sentral harus realistis dalam menetapkan sasaran defisit transaksi berjalan.

Namun, kata Perry, BI dan pemerintah tidak akan melonggarkan upaya untuk meningkatkan ekspor. “Kami tidak longgarkan. Kami lihat sejumlah barang itu masih kompetitif untuk mendorong ekspor. Misalnya ekspor otomotif, CPO, kebijakan B20. Kita mendapat banyak peluang untuk ekspor,” ujarnya.

Perubahan proyeksi defisit transaksi berjalan ini juga tidak lepas dari membengkaknya defisit perdagangan pada April 2019 hingga US$2,5 miliar atau membalikkan capaian surplus pada tiga bulan sebelumnya.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga April 2019 masih aman terkendali meskipun ada tekanan, baik dari luar maupun dalam negeri. Hal tersebut tampak dari realisasi pendapatan negara dan hibah yang mencapai Rp530,74 triliun atau 24,51% terhadap APBN 2019. Capai-an tersebut masih tumbuh positif sebesar 0,5% (yoy).

“Secara umum pelaksanaan APBN hingga akhir April adalah masih aman,” kata Sri Mulyani di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, kemarin.

Sri Mulyani menyampaikan bahwa penerimaan perpajakan masih tumbuh positif. Realisasi penerimaan perpajakan mencapai Rp436,41 triliun atau 24,43% dari APBN 2019. Angka tersebut tumbuh 4,72% jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama APBN 2018 yang sebesar Rp416,73 triliun.

“Secara total untuk pendapatan negara terlihat bahwa kondisi dan kegiatan ekonomi yang cenderung mengalami tekanan, baik dari luar maupun dari dalam terefleksi di dalam penerimaan perpajakan kita,” tandas Sri Mulyani. (Mei).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here