Home News 90% BUMN Terdampak, Ini ‘Ultimatum’ Erick Thohir ke BUMN

90% BUMN Terdampak, Ini ‘Ultimatum’ Erick Thohir ke BUMN

0
SHARE
Kantor Kementerian BUMN

Matanurani, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMM) Erick Thohir lagi-lagi memberikan ‘ultimatum’ kepada jajaran direksi perusahaan pelat merah untuk segera melakukan transformasi dan inovasi sehingga pada 2024 bisa terlaksana seluruhnya.

“2024 kita harapkan transformasi sudah terjadi, inovasi terjadi, dan kita membuat ekosistem yang baik, karena kita tidak ingin BUMN menjadi menara gading,” kata Erick dalam Indonesia Digital Conference 2020, yang digelar virtual, Rabu (16/12).

“Kita harus bisa kerja sama dengan UMKM, swasta, dengan pemda, dengan masyarakat, ini kita harapkan bangun ekosistem yang bisa kita jaga,” tegas pendiri Mahaka Media ini.

Dia menjelaskan, saat ini dampak pandemi Covid-19 tak hanya dirasakan oleh swasta, melainkan juga perusahaan BUMN.

Bahkan 90% di antaranya terdampak, hanya sektor telekomunikasi dan bank-bank anggota Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara) yang dalam posisi bisa tumbuh berkelanjutan.

“90 persen BUMN terdampak, hanya telekomunikasi atau Himara yang dalam posisi sustain, tapi mayoritas dalam kondisi yang sangat berat, seperti kereta api, airport, menurun jumlah penumpang. Kemudian travel ini akan sangat berpengaruh pada saat ini,” jelas Erick.

Sebab itu, perusahaan BUMN harus mengkaji ulang strategi bisnis ke depan, sehingga pada 2021 masuk dalam fase bertahan.

“Kita jaga bagaimana melindungi BUMN strategis dari dampak Covid. Pembentukan klasterisasi alhamdulillah sudah terjadi, yang tadinya 27 sekarang 12 klaster BUMN tapi supply chain [rantai pasokan] kita gabungkan,” kata Erick.

Dia mengatakan, yang terpenting juga saat ini adalah tata kelola perusahaan atau good corporate governance (GCG) harus ditingkatkan.

“Transparansi, compability [kesesuaian] ini kita lakukan. Lalu kita terus lakukan adalah restrukturisasi dan realignment [penyusunan kembali], di mana kita terus memperbaiki portofolio dengan restrukturisasi korporasi dengan konsolidasi, simplifikasi, jangan ribet-ribet. Ini membuat sustain, langsung, kita bisa lari dengan cepat,” tegasnya.

Erick juga menegaskan, yang tidak kalah penting adalah model bisnis yang berubah. “Ini yang saya tekankan kepada direksi BUMN, inovasi model bisnis baru harus mulai dipelajari,” katanya.

“Adanya Covid-19, suka tidak suka perubahan harus terjadi di segala lini. Karena itu kita tetap harus fokus kepada penanganan Covid dan baru untuk yang perusahaannya.

“Kalau balik di awal, program Indonesia sehat, Indonesia pintar, itu sama, ini yang kita jabarkan. Kalau kita tidak menyelesaikan Covid-19, kita tidak mungkin tumbuh di Q2 2022. karena itu kita harus bergotong royong menyelesaikan Covid, tapi juga transformasi di dunia digitalisasi berjalan dengan baik.”

Erick juga menekankan pentingnya para direksi memperhatikan 5 pilar BUMN, termasuk di antaranya mulai melakukan kerja sama dengan kampus-kampus dalam hal riset dan pengembangan (research and development/R&D).

“Saya hanya menekankan, karena saya tahu di sini [forum Indonesia Digital] juga banyak direksi BUMN yang hadir, sejak awal sebelum Covid terjadi, kita udah sosialisasi pada seluruh direksi, ini 5 pilar BUMN.”

“Salah satunya yang saya tekankan lebih awal, bagaimana kepemimpinan teknologi inovasi ini merupakan kunci ke depan. Kita sangat agresif sekarang, kita melakukan kerja sama dan membangun infrastruktur dan bisnis model yang bisa ke arah friendly kepada digital, apakah big data, Artificial Intelligence (kecerdasan buatan], EV Battery [baterai listrik].”

“Dan termasuk kita ingin benahi, BUMN ingin kerja sama R&d dengan universitas-universitas, karena memang universitas itu pusatnya R&D, ” jelas Erick. (Cnb).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here