Home Pertanian Krisis Cabai Berulang-ulang, Tanggung Jawab Siapa?

Krisis Cabai Berulang-ulang, Tanggung Jawab Siapa?

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Saat ini, harga cabai di sejumlah daerah melonjak tinggi, hingga membuat warga resah dan pedagang makanan harus merugi. Lalu ini tanggung jawab siapa?

Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui, kenaikan harga cabai merah disebabkan oleh kurangnya produksi di tingkat petani. Sementara DPR dan pengamat, mempertanyakan tata kelola petani yang dilakukan Kementan terhadap masalah yang selalu berulang.

Kalangan politisi Senayan berencana memanggil Menteri Pertanian Amran Sulaiman guna mempertanyakan mahalnya harga cabai dan penyebab turunnya produksi. “Kita akan agendakan (pemanggilan). Agar perencanaan produksi bisa lebih tepat, kata Wakil ketua komisi IV DPR, Daniel Johan kepada wartawan di Jakarta, Jumat (2/8) lalu.

Daniel mengatakan, kesalahan Kementan selalu berulang. Kata politisi PKB ini, seharusnya Kementan memperbaiki data supply dan demand agar terjadi kesetabilan harga dan barang.

Di kesempatan terpisah, pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah mengamati minimnya produksi cabai berdampak kepada kenaikan harga. Baik di tingkat petani, maupun pasar. Hal itu tentu menjadi salah satu indikasi lemahnya tata kelola di Kementerian Pertanian.

Kasus minimnya produksi sektor pertanian yang kerap berulang seharusnya dapat diatasi melalui pembinaan kepada petani, serta penciptaan inovasi bibit-bibit unggul yang disesuaikan dengan kondisi alam di Indonesia, baik geografis maupun cuaca.

“Yang lemah selama ini kan pembinaan. Kementerian Pertanian sangat lemah dalam pembinaan kepada para petani, termasuk petani cabai, dan juga petani-petani lain yang produknya strategis,” kata Trubus.

Menurutnya, lemahnya pembinaan dan dorongan kepada petani untuk terus meningkatkan produksi, menyebabkan kasus-kasus selalu berulang. Selain itu, kelemahan dari Kementan lainnya adalah dalam hal penciptaan inovasi bibit atau varietas yang unggul. Hal itu seharusnya dapat dilakukan dengan menggandeng universitas-universitas yang memiliki Fakultas Pertanian.

“Padahal kebutuhan masyarakat dari tahun ke tahun terus meningkat. Belum lagi kebutuhan untuk ekspor. Harusnya Kementan punya varietas baru yang kompetitif di masa depan. Dan sudah bisa di prediksi masa depan bagaimana, kan bisa melalui riset unggulan. Lemahnya inovasi ini yang menyebabkan masalah pertanian terus berulang,” terangnya.

Penciptaan inovasi tersebut, sambung dia, harusnya dapat disesuaikan dengan kondisi alam, potensi produk di masing-masing daerah. Lebih lanjut ditegaskan, menjadi ironis dimana Indonesia sebagai negara agraris selalu dihadapkan dengan persoalan pertanian yang rumit.

“Jadi ini persoalan tata kelola. Sepanjang tata kelola masih seperti ini, dan petani dalam posisi yang selalu dikorbankan dan kurang kesejahterannya, maka selalu munculnya itu lagi. Sesuatu yang mudah jadi rumit karena kebijakan tata laksana yang kurang komprehensif,” tandasnya.(Ini).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here