Home Ekonomi Pencabutan Subsidi Listrik Tingkatkan Inflasi hingga 4,9%

Pencabutan Subsidi Listrik Tingkatkan Inflasi hingga 4,9%

0
SHARE
Ilustrasi

Matanurani, Jakarta – Pemerintah pada tahun ini melakukan pencabutan subsidi listrik secara bertahap. Pencabutan subsidi listrik ini dilakukan karena terdapat pihak yang dinilai tidak berhak menerima subsidi listrik. Akibatnya, tarif listrik rumah tangga dengan daya 900 Volt Ampere (VA) tahun ini mengalami penyesuaian.

Menurut pengamat ekonomi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng, penyesuaian subsidi listrik ini berdampak cukup besar bagi inflasi di Indonesia. Bahkan, inflasi secara tahunan pun tercatat meningkat dibandingkan tahun lalu.

“Kenaikan tarif dasar listrik dalam setengah tahun terakhir meningkatkan inflasi menjadi 4,9% dari rata-rata tahunan 3,2%,” kata Salamuddin Daeng dalam keterangannya, Kamis (29/6).

Pemerintah pun perlu bekerja lebih keras untuk menjaga kestabilan inflasi pada tahun ini. Sebab, jika tidak maka hal ini akan berdampak pada terkurasnya daya beli masyarakat kecil.

Pemerintah sendiri bertujuan untuk mengalihkan subsidi pada sektor produktif lainnya. Hanya saja, menurut Salamuddin Daeng, hal ini tidak berdampak sepenuhnya pada rendahnya utang Indonesia yang salah satunya digunakan untuk subsidi.

“Sampai dengan Bulan Mei 2017 pemerintah telah mengambil 53% dari rencana utang untuk mengatasi defisit, penurunan penerimaan pendapatan negara, dan utang jatuh tempo,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN Sofyan Basir pun menampik adanya kenaikan tarif listrik. Menurutnya, isu yang beredar di media sosial terkait kenaikan tarif dasar listrik adalah isu yang tidak benar.

“Tidak ada kenaikan tarif daftar listrik karena kenaikan tarif daftar listrik itu tidak bisa diputuskan oleh PLN. Itu oleh pemerintah atas izin DPR. Jadi tidak ada kenaikan tarif dasar listrik, yang diputuskan tahun lalu itu adalah 900 watt yang subsidinya tidak diambil,” kata Sofyan di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Rabu, 14 Juni 2017 lalu.

Adapun alasan pemerintah untuk melakukan pencabutan subsidi pada beberapa pelanggan ini adalah karena pemberian subsidi yang tidak tepat sasaran. Banyak penerima subsidi listrik yang ternyata selama ini adalah orang yang mampu.

“Tidak dilaksanakan lagi karena memang fakta mengatakan, yang 900 watt ini mereka mampu tapi susbudinya lebih besar dari orang muslim yang 450 watt. Ada kos-kosan, punya mobil, di rumahnya ada AC dan segala macam. Tapi waktu dia membayar itu subsidinya dibayarkan lebih besar dari yang miskin dan kaum duafa Karena kaum duafa memakai listriknya kan kecil. 900 watt yang disubsidi kan mahal. Jadi lebih besar negara bayar untuk 900 watt padahal tidak layak dapat subsidi. Ini yang dibahas tahun lalu,” ujarnya. (Oke).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here