Home Ekonomi Pasca Penetapan HET, Pasokan Beras di Pasar Turun

Pasca Penetapan HET, Pasokan Beras di Pasar Turun

0
SHARE

Matanurani, Jalarta – Penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras yang mulai efektif pada 1 September 2017 mulai menunjukkan efeknya. Sebab pasca penetapan HET beras, pasokan beras di pasaran mulai mengalami penurunan.

Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan, karena baru berlaku 1 September 2017, dampak dari penurunan pasokan beras ini belum terlalu berpengaruh pada fluktuasi harga beras.

Namun ke depan, hal ini bisa saja membuat gejolak di pasaran. Untuk itu, ia meminta pemerintah untuk segera meningkatkan sosialisasi penerapan HET beras.

“Sosialisasi terkait aturan HET ini masih sangat dibutuhkan di lapangan agar tidak terjadi salah persepsi atas peraturan ini,” ujarnya, Senin (4/9).

Sutarto optimis para pedagang beras akan mengikuti kebijakan Kemdag soal HET beras. Ia juga berharap harga gabah di tingkat petani akan mengalami peningkatkan karena sudah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan dapat direalisasikan oleh Perum Bulog.

Seperti diketahui Kementerian Perdagangan (Kemdag) berharap dengan kebijakan HET ini, harga beras di pasaran bisa dikendalikan dan pedagang tidak mengambil margin keuntungan berlebihan. HET beras medium ditetapkan Rp 9.450 per kg dan premium Rp 12.800 per kg.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA)Winarno Tohir bilang, penurunan pasokan beras pada bulan September merupakan sesuatu yang wajar. Pasalnya saat ini sudah memasuki panen gadu dimana produksi tidak sebesar panen raya. Penetapan HET juga masih belum terasa di tingkat petani.

Menurutnya HET perlu dievaluasi oleh Kemdag bila terjadi kenaikan biaya produksi. “Ini peraturan masih baru sekali. Saya yakin kalau HPP naik, HET-nya juga akan naik,” ujarnya.

Pengamat Pertanian Khudori mengatakan, penetapan HET akan menekan harga gabah di tingkat petani. Dengan HET beras medium Rp 9.450 per kg dan premium Rp 12.800 per kg, harga gabah di petani maksimal Rp 4.000 per kg.

“Tapi sekarang saja harga gabah sudah di atas Rp 5.000 per kg,” tandasnya. Tekanan lebih besar jika pabrik penggilingan beras juga harus menjual beras di bawah HET. Sebab ada tambahan biaya transportasi dan angkut.(Ktn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here