Home Ekonomi HET Hanya Lindungi Konsumen Tapi Tekan Nasib Petani

HET Hanya Lindungi Konsumen Tapi Tekan Nasib Petani

0
SHARE

Matanurani – Kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) sejumlah komoditas pangan dinilai hanya akan menguntungkan konsumen karena ada jaminan stabilitas harga. Di sisi lain, kebijakan itu bakal menekan nasib petani karena harus menjual produknya pada harga rendah.

Sejumlah kalangan menyatakan upaya stabilisasi harga pangan yang efektif bukan dilakukan dengan cara mematok harga, tapi melalui peningkatan produktivitas nasional dari petani dalam negeri. Dan, modernisasi pertanian dianggap sebagai kunci untuk memacu produksi petani nasional.

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, mengatakan bagi konsumen, HET sangat bermanfaat karena memberikan jaminan kepastian harga sekaligus menjaga inflasi.

Akan tetapi, jaminan itu pun hanya sementara. Manakala terjadi kegagalan panen, misalnya, di kawasan pantai utara Jawa, seperti Subang dan Cirebon, produksi gabah langsung berkurang. “Akibatnya, harga menjadi tinggi.

Kalau biaya komponen tinggi maka harga beras pasti akan naik, dan nggak mungkin bisa memenuhi HET,” kata dia, Selasa (19/9).

Ketika panen sukses pun, lanjut Said, penggilingan atau pedagang akan membeli beras petani dengan harga lebih rendah guna menutup biaya produksi, menyesuaikan patokan harga atau HET. Situasi seperti inilah implikasi penerapan HET yang lebih banyak melindungi kepentingan konsumen ketimbang petani sebagai produsen.

“Saat harga rendah, tidak bisa menutup biaya produksi maka akan muncul pasar gelap. Kemudian, terjadi praktik-praktik curang, misalnya, pengoplosan beras. Meskipun, tanpa HET juga terjadi pengoplosan, tapi dengan adanya HET akan mendorong lebih banyak pencampuran kualitas beras untuk menghindari kerugian,” papar dia.

Menurut Said, ketika terjadi praktik curang seperti pengoplosan beras maka salah satu tujuan penerapan HET tidak tercapai. Sebab, konsumen tidak terjamin mendapatkan beras dengan kualitas seperti yang telah ditetapkan.

Sebelumnya, pengamat pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas, juga mengatakan meski menguntungkan konsumen namun HET dapat menyengsarakan petani.

Sebab, dengan adanya harga acuan tersebut maka harga pembelian di tingkat petani pun akan turut disesuaikan.

Sebelum ada HET, harga beras medium di pasaran berkisar 10.500–10.900 rupiah per kilogram (kg), sehingga harga pembelian gabah di tingkat petani sekitar 4.200 rupiah per kg.

Menurut Dwi, harga tersebut tergolong wajar. Namun, bila HET dijalankan maka harga pembelian gabah di tingkat petani bisa kembali di bawah 4.000 rupiah per kg. Akibatnya, petani dan penggilingan kecil terus merugi dan akhirnya berhenti beroperasi.

Seperti dikabarkan, Kementerian Perdagangan menetapkan HET beras berdasarkan zonasi. Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi dianggap sebagai wilayah produsen beras, sehingga di wilayah itu harga beras medium ditetapkan 9.450 rupiah per kg dan premium 12.800 rupiah per kg.

Sementara itu, untuk wilayah lainnya yang membutuhkan ongkos transportasi lebih, harga tersebut ditambah 500 rupiah. Kebijakan HET beras ditetapkan pada 1 September lalu, dan berlaku efektif 18 September 2017.(Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here