Home Ekonomi Faisal Basri: Kesalahan Tata Kelola Gula Rafinasi Akan Ancam Ekonomi Indonesia

Faisal Basri: Kesalahan Tata Kelola Gula Rafinasi Akan Ancam Ekonomi Indonesia

0
SHARE

Matanurani, Jakarta –¬†Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menjelaskan pemerintah harus mengubah paradigma terkait pengelolaan gula rafinasi. Jika salah kelola, katanya, akan menjadi faktor utama gagalnya target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini yang dipatok 5,1 persen.

Menurutnya, sektor makanan dan minuman yang menjadi merupakan konsumen utama gula rafinasi sepanjang 2011-2015 adalah industri yang tumbuh sekitar 8,5 persen per tahunnya. Persoalannya, pasokan gula dalam negeri sangat kecil karena persoalan ketersediaan lahan tebu.

“Ketimbang terjebak dalam ketergantungan impor yang berpotensi memboroskan devisa dan terbukti bocor dimana-mana karena selalu ada jumlah illegal yang ikut bersama ijin impor. Maka gula rafinasi adalah solusi penting untuk menutup kebutuhan industri makanan dan minuman,” ujar Faisal Basri dalam keterangannya, Senin (19/6).

Dia menegaskan tingginya harga justru terjadi karena adanya monopoli dalam kebijakan gula rafinasi. Sebab, gula rafinasi hanya boleh diimpor oleh importir teedaftar, sehingga jatah gula rafinasi dinikmati industri makanan dan minuman skala besar.

“Sektor Industri Kecil Menengah tidak kebagian dan harus bertahan dengan gula harga yang semakin tinggi. Itu alasan mengapa akhirnya banyak Industri makanan dan minuman dalam negeri akhirnya memindahkan pabriknya ke Vietnam, Thailand dan Laos,” katanya.

Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas ini menambahkan gula rafinasi aman untuk dikonsumsi rumah tangga. Kesalahan tata kelola gula rafinasi ini justru akan mengancam ekonomi Indonesia, salah satunya keberlangsungan industri makanan dan minuman.

“Sektor industri makanan dan minuman adalah termasuk yang paling tinggi menyumbang nilai ekspor. Jika terjadi hambatan pada pasokan gula kepada industri makanan dan minuman, maka sektor ini akan terpuruk. Sementara, kebocoran yang timbul dari penerbitan kuota impor gula sangat tinggi, sehingga pasar kebanjiran pasokan gula impor ilegal, ini yang benar-benar akan mennyengsarakan petani tebu dan industri gula. Pengangguran yang ditimbulkan dari gulung tikarnya industri pengolahan gula rafinasi juga adalah persoalan tersendiri yang harus dipikirkan oleh pemerintah,” pungkasnya. (Mer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here