Home Ekonomi BKPM Ingin Lebih Perhatikan Investor Kecil di Berbagai Sektor

BKPM Ingin Lebih Perhatikan Investor Kecil di Berbagai Sektor

0
SHARE

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi kuartal pertama 2018 sebesar Rp 185,3 triliun atau meningkat 11,8% dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya Rp 165,8 triliun. KONTAN/Ghina Ghaliya

Matanurani, Jakarta –  Investasi menjadi salah satu kunci penting sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Namun, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai, pemerintah tak harus selalu mengejar investasi besar lantaran luasnya potensi investasi berskala menengah kecil yang tak kalah penting.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BKPM Thomas Lembong dalam Seminar Nasional Transformasi Ekonomi untuk Indonesia Maju, Jumat (9/8) lalu. Menurutnya, pemerintah perlu memberi definisi baru terhadap investor menjadi bukan hanya yang investor besar, tetapi juga para investor kecil.

Selama lima tahun terakhir, tutur Lembong, BKPM fokus mengejar target investasi yang besar, mulai dari Rp 300 triliun hingga kini target makin melambung mendekati Rp 800 triliun.

Target investasi tersebut diupayakan demi memperbaiki struktur perekonomian Indonesia, terutama terkait beban defisit transaksi berjalan (current account deficit).

“Jadi tentunya kita terpaksa berburu ‘gajah’ investasi mega proyek demi mengejar target,” ujar Lembong.

Padahal menurutnya, investor berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tak kalah penting untuk diperhatikan dan dikembangkan. Industri skala kecil dan menengah juga umumnya tersebar di berbagai sektor ekonomi yang berbeda-beda.

Di antaranya sektor pariwisata, yang menurut Lembong memiliki potensi besar meski skala investasinya tak berukuran jumbo. Bentuk investasinya bisa kepada usaha kecil seperti hotel bintang dua atau tiga, restoran, industri kerajinan tangan dan oleh-oleh, serta yang lainnya.

Perhatian lebih penting diberikan pada pelaku ekonomi di sektor UMKM. Pasalnya, akan sulit bagi UMKM untuk bersaing dengan investor atau pengusaha konglomerat dan kelas raksasa yang notabene memiliki modal, uang, dan skala lebih besar sehingga bisa menggunakan jasa atau konsultan hukum di kala menghadapi hambatan regulasi untuk menanam modal.

“Kita perlu gali lebih dalam, menegaskan bahwa investor bukan hanya yang besar tapi juga yang kecil. Terutama mereka yang di sektor jasa dan padat karya yang memberikan lapangan kerja,” tandasnya.

Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, setidaknya ada tiga sektor ekonomi utama yang mesti menjadi perhatian untuk meningkatkan potensi investasi dan ekspor Indonesia ke depan.

Pertama, sektor manufaktur yang terdiri dari industri garmen, alas kaki, makanan dan minuman, elektronik, dan otomotif.

Kedua, sektor pariwisata yang menurut Perry bisa didorong dengan melakukan pemerataan access (akses), amenities (fasilitas), dan daya tarik (atraction). “Beberapa destinasi yang telah menjadi target pemerintah selain Bali dan Yogyakarta adalah Wakatobi, Labuan Bajo, Banyuwangi, Tanah Toraja, Danau Toba dan sebagainya,” kata Perry.

Ketiga, sektor perikanan. Menurut Perry, dengan makin banyaknya produk perairan Indonesia yang berkualitas, maka peluang untuk meningkatkan ekspor dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dari sektor kelautan dan perikanan semakin besar.(Ktn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here