Home Benny's Wisdom Toleransi modal utama Kemajuan Bangsa

Toleransi modal utama Kemajuan Bangsa

0
SHARE

Oleh: Pangeran Vernon

Tiba-tiba saya merasa ingin menulis apa yang terus menggumpal di benakku beberapa bulan bahkan beberapa tahun belakangan ini. Anehnya masih menyangkut Ahok. Mungkin karena banyak teman di grup WA yang bertanya tentang kondisi bangsa ini sekarang dan ke depannya.

Saya ambil pena dan mulai menggoreskannya di atas kertas putih bening tak bernoda.

Kita sudah menerima info sejak 2015 bahwa Ahok akan dijadikan sasaran tembak, walau mayoritas warga mengagumi hasil-hasil pembangunan di DKI Jakarta.

Segala daya dan upaya dikerahkan dgn tujuan politik agar Ahok tdk terpilih dlm pilgub thn 2017. Alasannya beragam tapi faktanya bisa mengental jadi satu kepentingan bersama, yaitu berawal untuk membalaskan rasa dendam pribadi lepas pribadi karena pernah dirugikan oleh Ahok baik secara material atau pun secara moral. Dukungan makin besar apalagi dengan mengajak masyarakat awam termasuk karena membawa isu sensitif primordial. Segala cara menjadi halal walau berujung pada kontroversi di kalangan tokoh umat beragama. Dokumentasi kelemahan Ahok mulai ditumpuk mulai dari karakter diri maupun soal penggusuran dan sebagainya.

Thn 2016 jerami terus menumpuk dan lambat laun mengering lalu dibakar dgn mudah. Debu dan Sekamnya menumpuk pada pertengahan April 2017. Ahok harus menghadapi tuduhan korupsi RS Sumber Waras dan Reklamasi yang berujung pada pengadilan atas tuduhan penodaan agama. Kemudian Pilkada dilalui dengan banyak demo sebelum pemilihan, hingga akhirnya kalah dalam pilkada pada bulan April. Tetapi kita menyaksikan sisi lain. Debu dan Sekam berubah bentuk pada bulan Mei pasca vonis penodaan agama dengan kurungan penjara 2 tahun. Silent majority mulai alert dan bertindak dengan spontan tanpa organisasi mendatangi pengadilan dan penjara Cipinang. Papan bunga dan lilin pengganti ucapan simpati dan empati mulai menyebar luas dan menyatu tdk hanya di jakarta tapi di berbagai daerah, bukan hanya di Indonesia tapi juga di mancanegara.
Itulah resiko pemimpin yg hrs dihadapi oleh Ahok seperti para pemimpin dunia yg tdk bisa disebutkan nama2nya disini.

Debu dan sekam bisa berubah menjadi media tanam dimana banyak orang bisa tumbuh makin waras dan sadar bahwa hakikat manusia sebaik2nya adalah bermanfaat bagi sesama. Lihatlah, Pancasila makin berkibar akhir-akhir ini. Presiden Jokowi makin tegar, bahkan seorang putra Solo terpaksa ikut menggunakan kata “gebuk dan tendang”. Bangsa Indonesia menemukan kembali jalan keselamatan dengan meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara yang harus dijaga dan dibumikan. Saya yakin di tangan Presiden Jokowi, toleransi akan semakin menyebar ke seluruh pelosok tanah air dan menggumpal di hati sanubari setiap insan warga negara. Semua itu akan berujung pada persatuan, kenyamanan, dan kedamaian sebagai bekal kita menuju Indonesia menjadi negara industri maju terbesar ke 4 di dunia.

Ahok telah menerima dengan ikhlas hukuman 2 tahun penjara. Suasana berbangsa dan bernegara tampak lebih kondusif bagi kesuksesan pembangunan Indonesia berdasarkan Pancasila dan Nawacita. Kita belajar disini bahwa sebanyak apapun prestasi yang dapat kita ukir bagi sesama tidak otomatis kita mendapat upah yang setimpal dari manusia.

Tetapi jangan pernah berhenti berbuat kebaikan walau apapun resikonya karena upahnya yang adil hanya datang dari Sorga, Tuhan Allah, sang Khalik Pencipta langit, bumi dan segala isinya.

Semoga kita menjadi manusia yg selalu bermanfaat bagi sesama karena melalui itulah ada jalan terang menuju Sorga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here