Home Benny's Wisdom Paket Sembako, Menguntungkan Usaha Besar

Paket Sembako, Menguntungkan Usaha Besar

0
SHARE
Dr Benny Pasaribu, Ketua Pokja Pangan, Komite Ekonomi dan Industri Nasional(KEIN).

 

Oleh: Dr. Ir. Benny Pasaribu, PhD.

SEJAKĀ  Pemerintah Pusat menetapkan peraturan Sosial Distancing dan memberlakukan PSBB di beberapa daerah, kita menyaksikan sejumlah usaha dan perkantoran harus ditutup dan pekerjanya dirumahkan atau diberhentikan. Akibatnya penghasilan sebagian warga masyarakat semakin memprihatinkan. Daya beli menurun. Sebagian lagi harus menghadapi kesulitan untuk mencari makan hingga kelaparan.

Tentu saja hal yang sama juga terjadi di ratusan negara yang terpapar pandemi Covid 19. Hal ini menjadi dilema karena di satu sisi ingin tetap di rumah saja sesuai aturan pemerintah, tetapi di sisi lain keluarga menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya sehingga ingin keluar rumah untuk mencari nafkah. Jika bertahan di rumah saja maka besar kemungkinan akan sakit karena kurang gizi, kalau belum waktunya meninggal.
Oleh karenanya, situasi new normal mulai terbentuk di tengah masyarakat. Jiwa dan semangat gotong royong semakin berkembang. Pemerintah juga berupaya memberikan bantuan sosial dan stimulus kepada yang terdampak. Bahkan dana APBN telah direvisi dengan mengalihkan belanja sebesar Rp 405,1 triliun untuk membiayai penanganan Covid 19 dan untuk memitigasi dampaknya.
Pemerintah telah mendistribusikan Sembako yang diikuti oleh sejumlah elemen masyarakat. HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) yang dikomandani Jenderal TNI (Purn) Moeldoko juga ikut aktif bergotong royong memberikan bantuan makanan sehat, APD, dan sembako.
Namun penyediaan sembako khususnya mendapat sorotan tajam dari media dan pengamat sosial.
Kesatu, banyak sembako diterima oleh keluarga yang tidak pantas menerima, sementara warga yang berhak belum menrimanya. Hal ini menyangkut validasi data penerima. Artinya, sejak puluhan tahun lalu data ini tidak divalidasi secara reguler.
Kedua, isi sembako juga disoroti. Kebanyakan komponen paket sembako merupakan hasil produksi pabrikan yang notabene milik korporasi. Beras dari BULOG, gula, supermie dan minyak goreng dari pabrik milik para samurai/ konglomerat, dan sebagainya.

Artinya kaum kapitalis justru makin berkembang dan meraup untung besar di saat warga dalam keadaan susah. Sementara, para petani yang sedang panen merasa sulit mencari pasar. Restoran dan hotel banyak yang tutup. Posisi tawar petani masih lemah. Petani mampu memproduksi padi, ubi, buah-buahan, sayuran, temu lawak, jahe, bawang, dan sebagainya, tetapi pasarnya sangat tipis.

Apakah tidak lebih baik jika produk ini diutamakan sebagai isi paket sembako dimaksud, ditambah dengan produk lain dari UMKM?
Kondisi ini perlu disikapi secara konkrit oleh pemerintah dan setiap elemen masyarakat yang aktif menyediakan paket sembako. Saat inilah kita perlu menyadari pentingnya semangat gotong royong untuk membela yang lemah.

Pengadaan sembako perlu diprioritaskan dari produk langsung petani dan UMKM daripada produk pabrikan. Paket sembako akan lebih bermutu karena diisi dengan produk yang masih segar dan sehat karena baru panen langsung dari petani.
Apabila masih kurang, tentu dapat diambil dari stok Bulog dan pabrikan sebagai jalan alternatif, bukan sebaliknya.
Berbuat baik kepada yang lemah pasti dapat pahalanya. Semoga negara tercinta ini dapat melaju kencang keluar segera dari cengkeraman pandemi Covid 19 dan sekaligus kita perlihatkan kekuatan baru ekonomi bangsa ini berada di tangan UMKM dan Petani kita.
Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Penulis:

*Dr. Ir. Benny Pasaribu, PhD*
Petani HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here