Home KEIN KEIN Kunjungi Petani Jambu Mete di Desa Nampar Macing Sano Nggoang

KEIN Kunjungi Petani Jambu Mete di Desa Nampar Macing Sano Nggoang

0
SHARE

Matanurani, Sano Nggoang – Rombongan Tim Kelompok Kerja (Pokja) Pangan dan Kehutanan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) yang didampingi tim Ekonomi Pembangunan Pemkab Manggrai Barat, mengunjungi para petani jambu mete di Desa Nampar Macing yang berpenduduk 435 kk atau 1.700 orang di Kampung Dahot di kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (9/8).

KEIN Berdialog dengan para petani jambu mete di Desa Dahot Manggarai Barat. Jumat (9/8).

Ketua Tim Pokja Pangan KEIN RI Benny Pasaribu disambut warga desa yang umumnya para petani jambu mete serta kemiri itu dan selanjutnya berdiskusi terkait proses  teknis mulai dari penanaman hingga sampai ke produksi.

Dalam diskusi bersama KEIN para petani menyebutkan jambu mete diperoleh dalam bentuk gelondongan yang dijual utuh per 1 kilogramnya seharga Rp 15.000. Sedangkan 1 pohon bisa menghasilkan 5 kilogram jambu mete.

“Jadi 1 kg jambu mete, kami bisa menghasilkan 100 kemasan dengan harga jual 1 kemasan per 100 gram Rp 25.000,” kata salah seorang petani kepada matanurani, Jumat (9/8).

Jambu mete setelah dilepaskan dari kulitnya

Sebelum dikemas untuk dijual, proses pengolahan jambu mete melalui beberapa tahapan tambah petani tersebut. Yakni memisahkan Biji Mete dari kulitnya dengan memakai alat Kacip seperti rangkaian besi dengan mata pisau cekung  yang bentuknya seperti huruf  “ M “.

“Jadi mata pisau cekung Kacip Mete itu hanya untuk membelah kulitnya saja tanpa merusak keutuhan Biji Mete yang ada di dalamnya,” sebutnya.

Buah Jambu Mete

Setelah dicungkil baru dilakukan proses penjemuran selama 1 jam langsung dibawah terik matahari dengan menggunakan lantai terpal. Kemudian digoreng dengan resep tertentu dan didinginkan sebelum dikemas untuk dijual ke mitra Eksotik di Labuan Bajo.

Namun begitu salah satu petani lainnya mengeluhkan kegiatan produksi jambu mete di desanya yang belum mendapat perhatian dari pemerintah setempat terutama soal pemberian alat penjemuran jika terjadi hujan untuk pengeringan.

“Meski sudah berlangsung lama dan turun temurun dari lintas generasi, itu karena kami memiliki kumpulan arisan  hingga bertahan sampai sekarang,” ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut Ketua Pokja Pangan dan Kehutanan KEIN Benny Pasaribu menyarankan agar Pemerintahan  kabupaten setempat menjawab keluhan para petani tersebut dengan mendorong koperasi sebagai wadah para petani jambu mete tersebut.

“Koperasi itu penting untuk menjawab keluhan para petani disini. Pemkab harus aktif agar tak ada lagi keluhan soal alat penjemuran jika terjadi hujan,” pungkas Benny.(Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here