Home Benny's Wisdom Benny Pasaribu: Kurs Dollar AS Menguat Untung Besar Bagi Eksportir & Produk...

Benny Pasaribu: Kurs Dollar AS Menguat Untung Besar Bagi Eksportir & Produk Bangsa

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Nilai tukar rupiah mampu rebound dari pelemahannya terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini, Kamis (20/9). Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka rebound dengan apresiasi 30 poin atau 0,20% di level Rp14.845 per dolar AS.

Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) , Benny Pasaribu mengatakan penguatan dollar AS disebabkan karena The Federal Reserves, atau bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga acuan

Hal ini berdampak pada meningkatnya arus balik dollar AS dari berbagai negara kembali masuk ke ekonomi domestik AS atau Capital Inflows, namun bagi negara lain disebut Capital Outflows.

“Sebenarnya Rupiah tidak melemah. Yang terjadi adalah dollar AS yang menguat. Penguatan dollar AS ini yang otomatis membuat nilai rupiah menurun,” kata Benny kepada matanurani di Jakarta, Kamis (20/9).

Menurut Doktor Ekonomi lulusan S-3 Ottawa University, Kanada itu dampak penguatan dollar AS terhadap perekonomian tentu dirasakan bervariasi oleh dunia usaha dan warga masyarakat.

Jika bagi pengusaha eksportir sambung Benny yang juga Wakil Ketua Umum Partai Hanura ini pastilah makin riang karena bisa meraup untung makin besar. Namun bagi importir pastilah makin kesulitan. Karena dampaknya pasti ekspor makin tumbuh, produksi dalam negeri makin dihargai di pasar internasional, dan industri dalam negeri makin besar peluangnya untuk tumbuh.

“Bagi eksportir, kurs mencapai di atas Rp 15.000 lebih baik, sementara bagi importir di bawah Rp 13.000 yang lebih baik. Tapi pemerintah, menjaga keseimbangan antara kebutuhan eksportir dan importir perlu dilakukan. Stabilitas kurs jauh lebih diutamakan dari pada sekedar menguat atau melemah,” ungkap Benny yang juga Ketua Badan Anggaran dan Ketua Komisi Keuangan DPR RI periode 1999-2004 itu.

Demikian halnya bagi warga masyarakat konsumen. Kalau konsumen yang suka barang impor pastilah banyak yang ngomelin pemerintah. Tetapi bagi warga biasa yang selalu membeli produk bangsa sendiri pastilah tidak merasakan kesulitan.

“Yang penting harga-harga di pasar masih tetap stabil, stok tersedia, inflasi terkendali di bawah 4%. Ekonomi Indonesia masih jauh lebih kuat dari pada tahun 1998. Sekarang ini kita masih bisa membangun infrastruktur dimana-mana dan harga-harga kebutuhan pokok dijamin stabil aman,” pungkas Ketua Ketua KPPU RI periode 2007-2013 itu. (Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here