Home Benny's Wisdom Benny Pasaribu Apresiasi Upaya Pemerintahan Jokowi Mengoreksi Data Produksi Beras

Benny Pasaribu Apresiasi Upaya Pemerintahan Jokowi Mengoreksi Data Produksi Beras

0
SHARE

Matanurani, Jakarta – Ketua Kelompok Kerja Pangan dan Agroindustri Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI, Benny Pasaribu mengapresiasi dan mendukung upaya pemerintahan Jokowi dalam mengoreksi data produksi beras, termasuk luas lahan baku sawah, dan luas panen, saat kini.

Data baru yang dikoreksi pemerintah adalah luas baku sawah yang berkurang dari 7,75 juta hektar tahun 2013 menjadi 7,1 juta hektar tahun 2018. Sementara potensi luas panen tahun 2018 mencapai 10,9 juta hektar dan produksi 56,54 juta ton gabah kering giling atau setara 32,42 juta ton beras.

“Sudah saatnya bangsa ini mengikuti trend revolusi teknologi 4.0 yang serba akurat, presisi, dan terintegrasi. Dan sejak tahun 1999 tidak pernah ada koreksi luas lahan padahal setiap tahun terjadi penurunan luas lahan karena alih fungsi,” ungkap Benny kepada matanurani di Jakarta, Selasa (23/10) malam.

Benny yang juga Sekretaris Jenderal Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu menambahkan upaya tersebut juga berdampak langsung pada alokasi APBN untuk subsidi bagi petani, seperti benih, pupuk, alat mesin pertanian, asuransi, dan sebagainya.

“Karena jumlah subsidi dalam APBN itu dapat dihemat jika subsidi per hektar pun tetap,” ungkap Benny.

Namun lanjut Benny penurunan luas lahan baku dan luas panen tidak serta merta akan menjustifikasi impor yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan. Kenapa?, Karena kebutuhan konsumsi beras per kapita masih di sekitar 120 kg per tahun. Sedangkan produktivitas per hektar sudah bisa mencapai sekitar 5 ton Gabah Kering Giling.

“Sehingga produksi beras nasional masih bisa surplus. Apalagi jika diversifikasi pangan didorong maka surplus beras dapat lebih besar,” jelas Benny.

Ke depan Benny berharap masih perlu fokus pada peningkatan dan kesejahteraan petani melalui peningkatan produktivitas dari 5 ton per hektar hingga mencapai 7-8 ton Gabah Kering Giling per hektar. Karena ruang untuk itu masih cukup besar.

Di samping itu, saran Benny industrialisasi komoditas padi perlu terus didorong agar menghasilkan nilai tambah bagi petani dan ekonomi daerah.

“Bagaimanapun, dengan industrialisasi komoditas agro akan mampu meningkatkan lapangan kerja dan daya beli bagi warga pedesaan. Sekaligus ekonomi kita akan makin kokoh dan berdaya saing kuat jika terjadi proses hilirisasi, industrialisasi,” pungkas Benny. (Smn).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here